Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BERKEMBANG pesatnya layanan e-book saat ini membuat was-was toko-toko buku konvensional. Tak terkecuali toko-toko buku di Barcelona, Spanyol.
Namun, itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap bertahan. Bahkan tidak menutup toko-toko buku tersebut. Mereka terus mencari langkah supaya tetap bisa sintas di tengah gempuran buku-buku digital yang kian membanjiri jagat maya.
Berbagai upaya pun dilakukan toko-toko buku konvensional untuk tetap menarik pelanggan, misalnya memperluas layanan toko buku sebagai tempat pergelaran konser, menjadi tempat belajar bahasa, dan diskusi-diskusi dengan tema-tema yang menarik mulai dari diskusi film, cerpen, dan sebagainya.
"Kami harus berubah. Entah kami menciptakan kembali diri kami sendiri atau kalau tidak, mustahil tetap buka," kata pemilik toko buku Bernat, Montserrat Serrano, yang berlokasi di sebuah jalan utama di Kota Barcelona.
Toko buku yang beroperasi sejak 1978 itu, kini selain menjual buku juga menjadi tempat pelatihan memasak, konferensi, dan kelas bahasa. "Saya memutuskan untuk memperluas pemanfaatan tempat ini untuk bertahan hidup. Saya mungkin dianggap gila, tetapi saya tidak memiliki hambatan berarti," kata Serrano.
"Saat Anda memilih mengonversi sebuah toko buku menjadi tempat pertemuan, Anda sudah membangun loyalitas pelanggan," kata Serrano, meski tetap mengakui masih sulit untuk bertahan.
"Kami sedang berupaya untuk menyeimbangkan aspek penjualan buku. Dan tentu saja jika sesuatu yang tak terduga terjadi, pasti semuanya berpengaruh," katanya.
Menurut Federasi Penerbit Spanyol, sektor penerbitan 'Negeri Matador' itu mencatat angka penjualan buku pada 2014 sebesar 2,19 miliar euro (Rp32 triliun). Jumlah itu turun 30% dari 2008.
Tak hanya itu, jumlah toko buku di Spanyol pun turun dari 7.074 pada 2008 menjadi 5.864 pada 2013.
Di Barcelona, yang merupakan rumah bagi penerbit terbesar berbahasa Spanyol, Planeta, beberapa toko buku mesti ditutup dalam beberapa tahun terakhir, termasuk toko buku Catalonia, yang menjadi toko buku ikonik di kota itu.
Didirikan pada 1924, toko buku itu ditutup pada 2013 lalu karena pemilik tidak bisa lagi bersaing dengan meningkatnya harga sewa tempat. Sekarang toko buku bersejarah itu telah menjadi restoran McDonald.
"Krisis memang sedang melanda kami terutama dalam urusan penerbitan," kata Antonio Daura, Kepala Asosiasi Penjual Buku di Catalonia.
"Tapi sudah ada pengusaha yang membuka toko dengan spesialisasi yang sangat khusus dan ukuran kecil," tambahnya.
Barcelona memiliki tradisi sastra sangat lama. Edisi jilid pertama Don Quixote, misalnya, diterbitkan di sana pada 1617. Pada 1960-an, di Barcelona muncul beberapa penulis hebat seperti Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, dan banyak penulis besar lainnya.
Sementara itu, Abel Cutillas, pemilik toko buku Calders, sebuah toko buku yang cukup populer dan menjual karya-karya penerbit kecil independen, mengatakan, "Ada krisis ekonomi, tetapi tidak krisis budaya."(AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved