Perkembangan Virus Zika kian Mencemaskan

Thomas Harming Suwarta
25/4/2016 08:25
Perkembangan Virus Zika kian Mencemaskan
(AFP/ADRIAN LEUNG)

SEKITAR 600 pakar penyakit dari 43 negara berkumpul di Paris, hari ini (25/4), untuk membicarakan dan mencari jalan keluar terhadap penyebaran virus zika yang kian mengkhawatirkan dunia, terutama di Amerika Latin.

Para ilmuwan dan ahli kesehatan masyarakat akan membahas keterkaitan virus itu dengan mikrosefalia, yaitu kelainan yang menyebabkan kerusakan otak yang parah pada bayi, dan masalah neurologis pada orang dewasa yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Menurut Institut Pasteur, tuan rumah pertemuan itu, para pakar juga akan meninjau kemajuan diagnostik zika dan vaksin.

"Sekarang jelas bahwa virus zika dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ini sebagai wabah kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional," kata Presiden Institut Pasteur Christian Brechot kepada AFP melalui e-mail.

"Karena itu, kami melakukan desakan untuk mempertemukan para pelaku global dan melakukan penelitian serta pendalaman secara bersama-sama," sambungnya.

Meskipun penelitian telah banyak dilakukan, pengetahuan tentang zika sangat sedikit, misalnya, berapa lama virus itu bersembunyi di dalam tubuh manusia, tingkat risiko penularan melalui aktivitas seksual, daftar lengkap penyebab penyakit, dan spesies nyamuk mana saja yang dapat membawa virus itu.

Awal bulan ini, otoritas kesehatan AS mengonfirmasi virus penyebab mikrosefalia itu cukup 'menakutkan' daripada yang diperkirakan sebelumnya. "Kami terus mempelajari virus ini. Sebagian besar dari apa yang kami pelajari belum cukup meyakinkan," kata Anne Schuchat, Wakil Direktur Utama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Virus itu pertama kali diisolasi pada 1948 dari monyet di Hutan Zika, Uganda. Selanjutnya, beberapa negara Afrika, Asia, khususnya Asia Tenggara, Mikronesia, Amerika Latin, dan Karibia melaporkan penemuan virus zika itu. Namun, bagi kebanyakan orang, gejala-gejala, seperti ruam, nyeri sendi, dan demam, dianggap biasa saja ketika itu.

Kolaborasi
Virus itu mulai mewabah di Brasil pada awal 2015, diikuti dengan lonjakan jumlah bayi yang lahir dengan mikrosefalia sembilan bulan kemudian.

Sejak tahun lalu, infeksi virus itu telah terdeteksi di 42 negara, terutama di Amerika Latin dan Karibia. Di delapan negara, ada laporan penularan orang-ke-orang--mungkin melalui hubungan seks. Menurut temuan, virus itu bertahan hidup di dalam laki-laki yang terinfeksi.

Sampai saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang ampuh mengatasinya. Hal yang bisa dilakukan sementara waktu ini ialah melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Para ilmuwan khawatir virus itu akan menyebar ke Amerika Serikat bagian selatan dan Eropa pada musim panas. Seperti diketahui, sebuah virus dapat berpindah ke daerah baru ketika nyamuk lokal mengambilnya dari manusia yang terinfeksi, dalam hal itu dari orang-orang yang kembali dari liburan di Amerika Selatan.

"Dengan penyebaran virus yang cepat dan luas, WHO menyatakan dengan infeksi virus itu kondisi kesehatan masyarakat dalam situasi darurat dan membutuhkan kolaborasi terbuka antara peneliti, komunitas kesehatan masyarakat, dan masyarakat," demikian pernyataan situs konferensi itu.(AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya