Indonesia Jadi Rujukan Penanggulangan Bencana di Negara Berkembang

31/3/2016 22:48
Indonesia Jadi Rujukan Penanggulangan Bencana di Negara Berkembang
(ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

INDONESIA merupakan salah satu negara yang rawan bencana di dunia. Bahkan, bencana-bencana besar terjadi seiring dengan tumbuh berkembangnya peradaban bangsa Indonesia.

Sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau 17.504, Indonesia memiliki kekhasan yang unik dalam penanggulangan bencana. Apalagi, dengan beragamnya etnik, agama, bahasa, sosial, ekonomi, dan budaya menyebabkan penanggulangan bencana di Indonesia lebih kompleks.

Indonesia saat ini dijadikan rujukan (role model) bagi negara-negara berkembang dalam penanggulangan bencana. Keberhasilan Indonesia melakukan penanggulangan bencana telah menginspirasi negara-negara berkembang untuk menjadikan contoh dalam penangana bencana di negaranya.

Hal ini dikemukakan langsung oleh James Fleming, Direktur Divisi untuk Asia, Amerika Latin dan Eropa USAID’s Office of US Foreign Disaster Assistance (USAID/OFDA) kepada Kepala BNPB Willem Rampangilei dan delegasi Indonesia di Kantor Pusat USAID Washington DC, pada Rabu (30/3) waktu setempat.

Fleming mengatakan, "Sejak tsunami Aceh pada 2004, Indonesia mengalami kemajuan yang luar biasa dalam penanggulangan bencana. Penanganan bencana dapat dilakukan dengan baik, seperti tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, gempa Sumatra Barat 2007, erupsi Gunung Merapi 2010, erupsi Gunung Kelud 2014, dan lainnya. Pemerintah AS melalui USAID/FODA terus berkomitmen membantu Indonesia dalam penanggulangan bencana. Sebab, pemerintah Indonesia sangat serius menanganinya. Sejak 2013-2015, total bantuan USAID/OFDA ke Indonesia, baik untuk pengurangan risiko bencana dan bantuan darurat bencana mencapai lebih dari US$ 25,4 juta."

"Saya mendapat laporan, bahwa program kerja sama antara AS dan Indonesia telah terimplementasi dengan baik. Sistem Komando Darurat (Incident Command System/ICS) yang kita latihkan ternyata sudah diimplementasikan oleh BNPB dan BPBD di daerah sehingga penanganan bencana menjadi lebih mudah. Sistem ICS ini juga digunakan AS dalam penanganan bencana yang banyak terjadi. Pengembangan InAWARE (Indonesia All Warning, Analysis and Risk Evaluation) antara BNPB dan Pasifik Disaster Center juga sangat maju. Bahkan melebihi ekspektasi kami karena bantuan sejenis di banyak negara-negara lain banyak mengalami masalah. Di Indonesia, sistem InAWARE digunakan di pusat hingga daerah. Begitu juga bantuan untuk peningkatan kapasitas, manajemen logistik, pelatihan, pemberdayaan masyarakat dan lainnya juga berjalan dengan baik. Intinya, kerja sama antara Indonesia dan USAID kita jadikan role model dalam penanggulangan bencana dengan negara-negara lain," imbuh Fleming.

Sementara itu, Kepala BNPB mewakili pemerintah Indonesia menyampaikan terima kasih atas bantuan pemerintah AS melalui USAID/OFDA. "Pemerintah Indonesia sangat komitmen menanggulangi bencana dengan serius. Ini sebagai wujud bahwa negara hadir melindungi rakyatnya. Bahkan, penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan nasional. Artinya, masalah bencana menjadi arus utama dalam pembangunan di semua sektor. Jiwa gotong royong dan kekompakan antara pemerintah Indonesia, masyarakat, dan dunia usaha menjadi salah satu pilar yang penting dalam penanggulangan bencana."

"Indonesia siap membantu negara-negara lain untuk berbagi pengalaman. Kita tinggal di satu planet bumi yang harus saling tolong menolong. BNPB memiliki pusat pelatihan penanggulangan bencana berkelas dunia bernama InaDRTG (Indonesia Disaster Relief Training Ground) yang dapat digunakan belajar bersama. Harapan saya agar kerja sama antara Indonesia dan AS dapat ditingkatkan ke depan. USAID dapat melanjutkan kerja sama program dalam peningkatan kapasitas, pengembangan InAWARE, pelatihan, menyediakan beasiswa untuk studi khusus penanggulangan bencana di AS, melanjutkan pengembangan sistem ICS, bantuan teknis dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, dan berbagi pengetahuan," tambah Willem seperti rilis yang diterima, Kamis (31/3).

Dalam pertemuan tersebut hadir dari delegasi Indonesia, pejabat USAID/OFDA, dan US Forest Service. (RO/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya