Pengadilan PBB Bebaskan Nasionalis Serbia atas Kejahatan Perang

Antara
31/3/2016 20:25
Pengadilan PBB Bebaskan Nasionalis Serbia atas Kejahatan Perang
(AFP)

HAKIM Perserikatan Bangsa-Bangsa membebaskan nasionalis Serbia Vojislav Seselj dari tuduhan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan, Kamis (31/3), yang mengejutkan dan menjadi pendorong bagi partai anti-Uni Eropa Serbia, Partai Radikal, menjelang pemilihan umum pada April.

Jaksa menuduh Seselj memantik kebencian suku, yang berujung pembunuhan, dengan pidato berapi-apinya menjelang akhir perang 1990, yang diikuti perpecahan Yugoslavia menjadi tujuh negara. Konflik tersebut telah menewaskan 130 ribu jiwa.

Dalam satu kesempatan, Seselj berpidato di hadapan tentara Serbia, dan mengatakan, "Tidak ada satu pun Ustasha yang meninggalkan Vukovar hidup-hidup," menggunakan istilah menghina bagi bangsa Kroasia pada 1991 di Kota Kroasia yang terletak di perbatasan Sungai Danube dengan Serbia.

Namun, secara mengejutkan pengadilan PBB memutuskan bahwa pidato tersebut tidak mengarah pada hasutan. Tidak bisa diputuskan bahwa pidato semacam itu dibuat dalam konteks konflik dan dimaksudkan untuk mendorong semangat para tentara di kampnya, dan bukannya menyerukan kepada mereka untuk tidak menyisakan siapa pun. Demikian dikatakan Hakim PBB Jean-Claude Antonetti.

Di markas Partai Radikal di Beograd, para pendukung Seselj bersorak menyambut keputusan pengadilan PBB itu. Seselj sendiri memperkirakan bakal divonis 25 tahun penjara.

Hasil jajak pendapat menunjukkan partainya sedikit di atas ambang batas 5% yang dibutuhkan untuk kembali ke parlemen bulan depan setelah empat tahun berada di luar parlemen.

"Pembebasan itu membuat saya kelu," kata Vesna Bosanac, kepala rumah sakit Vukovar yang dikepung milisi pro-Seselj pada 1992. "Satu-satunya yang dia tunggu ialah pengadilan Tuhan," lanjutnya.

Vonis pada Kamis itu menjadi hal janggal bagi pemerintahan sayap kanan Perdana Menteri Aleksandar Vucic, yang pernah menjadi sekutu Selsej dan menyingkirkan nasionalismenya untuk kebijakan masuknya Serbia ke dalam Uni Eropa.

Seselj, 61, merupakan penulis produktif yang dikenal cepat marah dan sekutu dekat almarhum Presiden Serbia Slobodan Milosevic, yang meninggal dalam sel pengadilan di Den Haag satu dasawarsa lalu sebelum pengadilan kejahatan perang terhadapnya selesai.

Seselj tidak pernah meninggalkan idealismenya untuk 'Serbia Raya' menggabungkan sebagian Kroasia dan Bosnia, yang diperjuangkan pasukan nasionalis Serbia setelah negara-negara federal Yugoslavia pecah, dan
pesannya belum bisa menarik kembali para pendukung Vucic.

Pemerintah bertindak sangat hati-hati di saat berkembangnya pengaruh Rusia di Eropa tenggara--Moskow merupakan sekutu lama Serbia--dan mengambil risiko kehilangan dukungan domestik jika terlihat terlalu mengakomodasi Pengadilan Kejahatan Internasional bagi Bekas Yugoslavia (ICYT) yang didukung UE.

Pembebasan Seselj juga menjadi pukulan bagi jaksa pada Pengadilan ICYT setelah sidang yang berlangsung selama satu dasawarsa dan merupakan yang terpanjang dalam sejarah ICYT.

"Dengan pembebasan dari seluruh sembilan tuduhan, surat perintah penangkapan yang dikeluarkan dewan banding dianggap tidak relevan," kata Antonetti. "Vojislav Seselj sekarang manusia bebas." (Ant/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya