BIN Koordinasi dengan Filipina untuk Selamatkan Sandera

Astri Novaria
31/3/2016 19:45
BIN Koordinasi dengan Filipina untuk Selamatkan Sandera
(MI/M.Irfan)

KEPALA Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Kamis (31/3). Pria yang akrab disapa Bang Yos itu mengaku memberikan beberapa laporan, salah satunya situasi mengenai informasi intelijen terkait penyanderaan 10 warga negara Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

"BIN itu memberi informasi terus. Di sana ada perwakilan BIN luar negeri (Perbinlu). Saya perintahkan untuk secara ketat bekerja sama dengan intelijen di Filipina untuk mengikuti perkembangan. Nah, itu kita suplai terus ke pemerintah termasuk kepada Panglima TNI," ujar Bang Yos di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Beberapa opsi tengah disiapkan oleh BIN. Namun, menurutnya, keselamatan sandera menjadi prioritas utama. Sutiyoso juga melaporkan bahwa posisi para penyandera berdasarkan informasi yang diperolehnya lebih dari satu tempat.

Semua rencana penyelamatan para WNI, sambung dia, tetap bergantung pada keputusan pemerintah Indonesia. Juga termasuk menunggu pemerinah Filipina yang memiliki kewenangan di negara tersebut. Ia menjamin, pasukan TNI sudah mampu melakukan penyelamatan jika diizinkan.

"Pasukan kita sangat qualified, tapi sekali lagi negara orang tidak semudah yang dibayangkan. Kita buat opsi misalnya dengan cara serangan itu tidak mudah karena ada aspek politis di samping aspek taktisnya. Kita akan negosiasi terus," lanjut mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Meski demikian, Bang Yos memastikan 10 WNI yang ditawan di Filipina dalam kondisi baik. Informasi yang didapatnya, ada warga negara asing yang turut disandera oleh kelompok teroris pimpinan Abu Sayyaf tersebut. Mereka antara lain warga negara Kanada, Belanda, Norwegia, dan Filipina sendiri.

Kelompok Abu Sayyaf juga mengancam akan membunuh 10 WNI jika tidak memenuhi permintaan mereka sampai batas waktu 8 April mendatang, yaitu tebusan sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp15 miliar.

"Karena itu kita akan negosiasi. Ini kan masih 8 hari waktu kita, tapi sekali lagi kita tidak bisa mengatakan secara spesifik tindakan yang akan kita lakukan. Itu sangat teknis yang tidak bisa kita ceritakan," pungkasnya. (Nov/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya