Eropa Dituding Bersikap Ganda

Haufan Hasyim Salengke
21/3/2016 05:45
Eropa Dituding Bersikap Ganda
(AFP/LOUISA GOULIAMAKI)

TURKI dan Uni Eropa (UE) sepakat memulangkan pengungsi yang kini berada di perbatasan Yunani dan Makedonia ke Ankara.

Kesepakatan yang dicapai Jumat (18/3) di Brussels, Belgia, itu dinilai kontroversial karena diduga ada konsesi politik dan keuangan untuk Turki.

Pihak UE berkepentingan untuk menghentikan gelombang arus migran dari Suriah yang membanjiri wilayah mereka dalam 2 tahun terakhir. Di sisi lain, Turki berkeinginan masuk menjadi anggota UE.

Terlepas dari dugaan itu, kesepakatan ini dinilai tak menghargai kemanusiaan.

Lembaga Amnesti Internasional mengkritik keras kesepakatan itu.

Lembaga pemerhati hak asasi manusia (HAM) itu menuduh para pemimpin Eropa bersikap ganda.

Lembaga HAM terkemuka itu mengatakan kesepakatan tersebut menunjukkan kegagalan UE dalam konsistensi dan tekad untuk mendukung krisis pengungsi global.

"Sikap ganda tentang kesepakatan ini menunjukkan bahwa Uni Eropa tidak memiliki tekad kuat untuk mendukung krisis pengungsi global dan sengaja mengabaikan kewajiban internasional," ungkap John Dalhuisen, Direktur Amnesty International untuk Eropa dan Asia Tengah.

Selain dikecam oleh Amnesty International, kesepakatan itu juga ditentang oleh ribuan orang yang menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah kota di Eropa, kemarin.

Perdana Menteri (PM) Turki Ahmet Davutoglu dan Presiden Uni Eropa Donald Tusk mengonfirmasi adanya perjanjian itu, yang mulai berlaku kemarin.

Hal itu mereka utarakan pada konferensi pers bersama di Brussels, Belgia, setelah kedua pihak melakukan tiga putaran pembicaraan.

"Pengungsi, migran, pencari suaka yang tiba di Yunani, di pulau-pulau atau daratan akan menjalani proses dan kemudian, pada waktunya, mereka akan dikirim kembali ke Turki," ungkap Aljazeera yang melaporkan langsung dari Brussels.

Dalam pertemuan itu disepakati para migran yang tiba di Yunani akan dikirim kembali ke Turki jika mereka tidak mengajukan permohonan suaka atau klaim mereka ditolak.

Tujuan lainnya ialah menutup rute utama pengungsi, yang biasanya mengarungi Laut Aegea ke Yunani sebelum bergerak ke Jerman dan Swedia.

Ankara akan memulangkan kembali semua pengungsi, termasuk warga Suriah, yang menyeberang ke Yunani secara ilegal lewat jalur laut.

Sebagai imbalannya, UE akan mengambil ribuan pengungsi Suriah langsung dari Turki dan memberikan imbalan uang, perjalanan bebas visa, dan percepatan proses keanggotaan Turki di Uni Eropa.

Ditunda

Keraguan mengenai keefektivan kesepakatan itu dalam menangani laju pengungsi ke daratan Eropa masih dirasakan berbagai pemangku kepentingan.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, juga tidak terlalu yakin.

"Ada tantangan hukum besar yang sekarang kita harus atasi," ujar Merkel setelah ke-28 pemimpin Uni Eropa membukukan kesepakatan dengan PM Davutoglu.

Sementara itu, sekitar 2.300 tenaga ahli, termasuk pejabat keamanan, petugas imigrasi, dan penerjemah, dijadwalkan tiba di Yunani untuk membantu proses pemulangan para pengungsi ini.

Namun, hingga kemarin, para pejabat Yunani mengatakan tidak seorang pun tenaga ahli yang telah tiba di 'Negeri para Dewa'.

Ia juga menyatakan kesepakatan itu tidak bisa segera dilaksanakan karena memerlukan perincian kunci lebih lanjut mengenai aturan mainnya.

(AFP/BBC/Aljazeera/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya