Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERANG cuma menyisakan nestapa. Itulah yang dialami jutaan warga Suriah.
Akibat perang saudara yang pecah sejak lima tahun silam, sebagian dari mereka terpaksa mengungsi.
Eropa menjadi tanah harapan.
Namun, tak mudah menggapainya.
Selain berjarak ribuan kilometer, mereka mesti pula mengarungi lautan lepas.
Tak sedikit dari pengungsi itu yang tewas tenggelam.
Keluarga Layla Ali Kamal Adeen termasuk salah satu dari jutaan pengungsi itu.
Sejauh ini mereka memang selamat, tapi mereka hidup tercerai berai.
Layla hingga kini masih tertahan di perbatasan Yunani dan Masedonia.
Perempuan berusia 39 tahun itu terpisah dengan suami dan keempat anaknya yang kini berada di tempat penampungan di Berlin, Jerman.
"Saya sempat putus asa dan lebih baik mati, namun suami saya selalu menguatkan," ujar Layla terisak seperti dikutip AP, Sabtu (19/2).
Layla hanya dapat berkomunikasi dengan suami dan anak-anaknya melalui telepon. Itu pun cuma beberapa menit lantaran mahalnya tarif.
Layla dan puluhan ribu pengungsi lainnya tertahan di Yunani setelah sejumlah negara Eropa menutup pintu perbatasan mereka, beberapa pekan lalu.
Tak jelas kapan dia dapat bertemu kembali dengan keluarganya.
Layla mengaku amat rindu, terutama dengan keempat anaknya yang semuanya masih berusia di bawah sembilan tahun.
"Saya terutama khawatir dengan si bungsu yang sering sakit," ujarnya dengan mata berlinang.
Keluarga dari suku Kurdi itu sebetulnya berangkat bersama-sama.
Enam bulan silam, mereka meninggalkan rumah mereka di Qamishli, Suriah.
Suami Layla yang seorang dokter gigi memboyong keluarganya mengungsi.
Namun, di perjalanan Layla yang takut dengan ganasnya ombak ogah menaiki perahu.
Ketika itu mereka sudah berada di Turki hendak menuju Yunani.
"Suami saya berkata, ayo Layla cepat. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi di sini. Ini demi masa depan anak-anak kita. Tapi saya takut, sangat takut," tutur Layla. Debur ombak dan jerit tangis akhirnya mengiringi perpisahan keluarga ini.
Terhalang Birokrasi
Waktu berlalu, Layla pun kian didera rindu.
Hatinya teriris tiap kali mendengar ratapan anak-anaknya di telepon.
Bulan lalu, dia pun akhirnya nekat ikut menyeberang bersama para pengungsi lainnya menuju Yunani.
Layla serta ribuan pengungsi lainnya kini tinggal di sebuah kamp pengungsi di Idomeni.
Mereka hidup berdesakan dalam beberapa tenda dan diterpa cuaca dingin serta makanan yang minim.
Layla kini berharap kepada para aktivis atau lembaga yang mengurusi pengungsi untuk dipertemukan dengan keluarganya.
"Saya tak mampu menunggu lebih lama lagi. Saya bisa mati," jerit Layla pilu.
Di Berlin, yang berjarak kurang lebih 1.800 km dari tenda Layla, anak-anak dan suaminya juga menyimpan kerinduan yang sama.
"Anak-anak sangat kangen ibunya. Hampir setiap hari mereka menangis menanyakan ibu mereka" ujar Nahrouz Ramadan, suami Layla, di Berlin.
Meski ia terlihat tabah, mata pria paruh baya itu pun basah, berkubang rindu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved