Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT masih tinggal di sebuah kampung di Nepal, Sunita Magar kerap berangan-angan. Ia membayangkan dapat pekerjaan di sebuah pabrik di negara Kuwait.
Ia juga memimpi dapat gaji lebih lebih besar jika dibandingkan dengan bekerja di negaranya sendiri. Namun, impian Magar sirna dan nasib berkata lain.
Saat perjalanan menuju negara tujuan, Kuwait, ia justru mendarat di Damaskus, Suriah. Negara yang tengah dilanda konflik perang saudara yang lebih dari lima tahun.
Apa mau dikata, Magar justru terjebak dalam negara yang telah ditinggalkan ratusan ribu warganya.
Untuk bisa bertahan hidup, ia pun tetap harus mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.
Pekerjaan yang didapat jauh dari dambaan impian yang dibayangkan Magar. Saban hari, bukan uang yang diterimanya, melainkan pukulan.
Selain didera dengan tongkat yang kerap mendarat pada sekujur tubuhnya, ia pun hanya mendapat jatah makan sekali dalam sehari.
Magar mengatakan telah menghabiskan 13 bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kota Suriah.
Akibat kekerasan tak manusiawi yang menimpanya, ia telah berkali-kali memohon untuk diizinkan pulang ke kampung halamannya di Nepal.
"Saya benar-benar tertekan, saya tidak bisa berhenti menangis," ucap Magar, ibu dua anak yang sudah berpisah dengan suaminya itu kepada AFP.
Magar ialah hanya satu dari puluhan perempuan miskin Nepal dan Bangladesh yang melakukan perjalanan penuh risiko ke kawasan Timur Tengah.
Padahal, sebelum berangkat, perusahaan perekrut mengiming-imingi pekerjaan dengan gaji lumayan.
Namun, sindikat perekrut pekerja kaum hawa tersebut justru menjeremuskan ke jurang perdagangan manusia di wilayah Suriah, negara yang tengah didera perang saudara.
Diplomat kawakan Nepal, Kaushal Kishor Ray, mengatakan banyak pembantu rumah tangga asal Filipina, Indonesia, dan negara-negara lain di Suriah.
Namun, sejak perang berkecamuk, mereka meninggalkan negara yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad tersebut.
"Sejak itu sindikat pedagang manusia menargetkan warga Nepal dan Bangladesh," kata Kaushal Kishor Ray yang juga menjabat Kepala Misi Diplomatik Nepal yang berbasis di Kairo, Mesir.
"Angka-angka perdagangan manusia telah meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, kami memperkirakan setidaknya ada sekitar 500 perempuan Nepal di Suriah," tegas Ray kepada AFP.
Nasib pilu yang dialami Magar juga menimpa Shahinoor Begum.
Kini, Begum masih harus terbujur di tempat tidur sebuah rumah sakit di Kota Dhaka, Bangladesh, untuk memulihkan kondisinya.
Tujuh bulan lalu, Begum terlunta-lunta menjadi budak seks setelah terperangkap sindikat perdagangan manusia yang mengirimnya ke Suriah.
"Aku dijual ke seorang pria Suriah yang menyiksa dan memperkosa saya setiap hari, kadang-kadang bersama dengan teman-temannya," ucap ibu dua anak tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved