Dirobohkan saat belum Digunakan

AFP/Wendy Mehari Utami/I-3
26/2/2016 07:21
Dirobohkan saat belum Digunakan
(AFP/Ahmad Gharabli)

PAGI itu, Senin (22/2), sejumlah murid tiba di lokasi yang sedianya menjadi sekolah baru mereka di permukiman Abu Nawwar, dekat Jerusalem, Tepi Barat, Palestina.

Namun, bukan gedung sekolah yang mereka hampiri, melainkan reruntuhan belaka.

Sekolah itu baru saja rampung dibangun dengan dana pemerintah Prancis. Sekolah itu juga merupakan satu-satunya sekolah bagi anak-anak suku Badawi yang tinggal di Abu Nawwar.

Pada hari sebelumnya, otoritas Israel menghancurkan sekolah yang diperuntukkan komunitas Badawi itu.

Alasannya, konstruksi itu ilegal.

Akibatnya, sekolah itu digusur bahkan saat belum digunakan.

Sudah sejak kisaran 1960, kelompok suku seminomaden Arab, Badawi, tinggal di sana. S

ementara itu, permukiman Maale Adumim milik warga Israel mulai dibangun pada dekade berikutnya.

Sepanjang beberapa pekan terakhir, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa (UE) menyatakan kecemasan tinggi soal penghancuran bangunan yang dilakukan Israel.

Banyak gedung yang ditargetkan untuk dihancurkan itu didirikan dengan donasi dari pemerintah negara lain, termasuk sekolah anak-anak Badawi tadi.

Meski demikian, anak-anak Badawi tetap bersekolah di pelataran tanpa atap yang sedianya merupakan gedung sekolah baru mereka.

Namun pada Selasa (23/2), murid-murid berusia 7-8 tahun itu harus berlarian untuk berteduh ketika hujan tiba-tiba turun saat mereka tengah belajar.

Pada hari berikutnya, 25 anak tetap mengikuti kelas bahasa Arab dan Inggris dengan beratapkan langit.

"Militer Israel telah menghancurkan sekolah kami. Mereka bahkan mengambil kursi-kursi dan meja-meja," ucap kepala sekolah Asma Sheha.

Prancis, sebagai penyumbang dana pembangunan sekolah Abu Nawwar itu, mengecam keras aksi penghancuran yang dilakukan Israel.

UE pun menyatakan kekhawatiran atas banyaknya bangunan Palestina di Tepi Barat yang dihancurkan dan disita Israel.

"Termasuk penghancuran sekolah di Abu Nawwar pada 21 Februari. Sekolah itu dibangun dengan didanai Prancis dan merupakan satu-satunya sekolah untuk komunitas Badawi yang juga merupakan komunitas yang eksistensinya terancam," demikian pernyataan UE.

Menurut Nickolay Mladenov, koordinator khusus PBB untuk proses perdamaian Timur Tengah, "Pekan lalu, otoritas Israel merobohkan 201 bangunan milik warga Palestina, termasuk 79 yang dibangun dengan donasi," jelas Mladenov dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB.

Akibatnya, lanjut Mladenov, ada 320 orang harus mengungsi.

Dia juga memaparkan, sejak awal 2016 ini, Israel telah menghancurkan rata-rata 29 bangunan milik warga Palestina per pekan.

Jumlah itu tiga kali lipat lebih banyak ketimbang rata-rata pada 2015.

"Aksi itu jelas bertentangan dengan upaya perdamaian," tegas Mladenov.

Unit Urusan Sipil Tepi Barat di Kementerian Pertahanan Israel beralasan pembangunan sekolah itu tanpa izin alias ilegal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya