PBB Dukung Gencatan Senjata

AFP/*/I-3
26/2/2016 08:49
PBB Dukung Gencatan Senjata
(AFP/ABDULMONAM EASSA)

TEKANAN untuk mematuhi gencatan senjata di Suriah yang dipelopori Amerika Serikat (AS) dan Rusia terus menggema.

Kesepakatan gencatan senjata di wilayah Suriah yang digagas dua negara adidaya dan dimulai besok itu mendapat dukungan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Dewan Keamanan PBB diharapkan untuk mengadopsi kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Sementara itu, utusan khusus PBB Staffan de Mistura sangat mengharapkan kesepakatan gencatan senjata itu dapat mendorong digelar perjanjian damai Suriah yang gagal.

AS yang mendukung kelompok pemberontak kecuali Islamic State (IS) dan Rusia yang mendukung rezim Suriah Bashar al-Assad menyetujui gencatan dimulai pada Sabtu (27/2) pukul 05.00 waktu setempat.

Pasukan pemerintah pro-Assad dan kelompok pemberontak diminta tidak saling serang.

Gencatan senjata diharap menjadi penyelesaian diplomatik untuk menghentikan konflik di Suriah yang telah menelan 270 ribu jiwa.

Konflik tersebut telah berlangsung selama lima tahun.

Sebelumnya, Rabu (24/2), Presiden AS Barack Obama mengatakan sangat berhati-hati dan tidak ingin berharap terlalu tinggi terkait kesepakatan gencatan senjata.

"Situasi di lapangan sangat sulit diduga, tapi kita telah melihat kemajuan sederhana selama minggu terakhir ini sehubungan akses kemanusiaan yang telah diberikan," ucap Obama.

Di lain pihak, Rusia menyatakan pihaknya telah berbicara dengan Presiden Bashar-al-Assad soal gencatan senjata.

Namun, militer Rusia berjanji tidak akan menghentikan serangan terhadap IS dan kelompok Front al-Nusra yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Sementara itu, militer Suriah menegaskan wilayah Daraya yang berada dekat Kota Damaskus bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

Alasannya, wilayah Daraya dikuasai kelompok pemberontak dan teroris.

Kementerian Pertahanan Rusia sedang membahas gencatan senjata dengan kelompok pemberontak yang didukung AS di empat provinsi yakni Hama, Homs, Latakia, dan Daraa.

Rusia juga mendiskusikan perjanjian gencatan senjata itu dengan Arab Saudi dan Iran.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menerima dengan baik gagasan tersebut.

Sebelumnya, Kelompok oposisi Suriah yang tergabung dalam High Negotiations Committer (HNC) yang berada di Riyadh, Arab Saudi, telah menyatakan sepakat untuk mendukung gencatan senjata.

Namun oposisi HNC meminta pemerintah Suriah dan pendukungnya untuk membebaskan para tahahan, menghentikan pengeboman terhadap penduduk sipil, dan mengizinkan konvoi kendaraan yang membawa bantuan kemanusiaan ke wilayah yang dikuasai pro-Assad.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya