Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
QATAR dan Kuwait, Rabu (24/2) waktu setempat, menjadi negara Teluk terbaru yang menyerukan warga negara mereka untuk meninggalkan Libanon.
Seruan itu terkait ketegangan hubungan dengan kelompok milisi Syiah, Hezbollah, yang mendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Qatar dan Kuwait termasuk dua sekutu utama Arab Saudi di kawasan dan terlibat dalam koalisi militer pimpinan Riyadh di Yaman.
Tindakan serupa telah dilakukan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain.
Sudan dilaporkan akan melakukan tindak serupa.
Sebelumnya, Saudi telah menghentikan program bantuan militer senilai US$3 milIar (Rp40 triliun) untuk Libanon.
Tindakan Riyadh itu merupakan bentuk protes terhadap kelompok Hezbollah Libanon yang mendukung rezim Suriah.
Pemerintah Libanon baru-baru ini juga didominasi tokoh-tokoh Hezbollah.
Bahkan, Menteri Kehakiman Libanon Ashraf Rifi mundur dari kabinet Libanon, Minggu (21/2). Dominasi kelompok Hezbollah membuat hubungan Beirut dan Riyadh kian merenggang.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Qatar, QNA, Kementerian Luar Negeri Qatar juga meminta para warga negaranya untuk meninggalkan Libanon.
Seruan itu beralasan demi keselamatan.
Qatar menegaskan warganya tidak boleh melakukan perjalanan ke sana.
Pada Rabu (24/2) pagi, dalam pernyataan yang dikutip kantor berita resmi KUNA, Kedutaan Besar (Kedubes) Kuwait di Beirut, ibu kota Libanon, menyarankan orang-orang Kuwait untuk menunda setiap rencana perjalanan ke Libanon.
Pihak kedubes mengatakan semua warga negara Kuwait harus meninggalkan Libanon, kecuali dalam keadaan sangat penting.
Kedubes menyarankan warga Kuwait yang tinggal di Libanon untuk berhati-hati dan disarankan menghindari daerah yang tidak aman.
Meminta maaf
Duta Besar Saudi di Libanon, Ali Awad Assiri, mengatakan Libanon harus meminta maaf karena gagal bergabung dengan negara-negara Arab lainnya untuk mengutuk serangan terhadap misi diplomatik Arab di Iran bulan lalu.
"(Sikap Libanon) ini telah mengecewakan kerajaan (Saudi) dan (Libanon) harus memperbaiki kesalahan dengan kebijaksanaan dan keberanian," ungkap Assiri kepada AFP.
Saudi langsung memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pascapenyerangan terhadap diplomat dan Kedubes Saudi di Teheran, Iran.
Penyerangan itu merupakan bentuk protes massa Iran ats eksekusi tokoh berpengaruh Syiah Nirm al-Nimr.
Perang dan konflik Suriah telah memperburuk persaingan politik di Libanon.
Bahkan, Libanon tidak memiliki presiden selama hampir dua tahun karena perbedaan pendapat sengit antara Hezbollah dan para pesaingnya yang didukung Riyadh.
Sementara itu, juru bicara pemerintah Yaman, Rajih Badi, menuduh Hezbollah melatih pemberontak Syiah, Houthi.
Kelompok militan Syiah itu juga diduga mendalangi serangan terhadap kepentingan Arab Saudi dari wilayah Yaman.
"Pemerintah memiliki bukti keterlibatan Hezbollah yang mendukung Houthi dan melawan rakyat Yaman," kata Badi dalam sebuah pernyataan resmi kepada sabanew.net.
"Milisi Hezbollah hadir di 'medan perang di sepanjang perbatasan Arab Saudi," tambah Badi.
Ia mendesak langkah hukum internasional untuk menindak gerakan Hezbollah di Yaman.
Arab Saudi memimpin koalisi militer negara-negara Arab untuk memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman.
(AFP/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved