Mantan Sekjen PBB Boutros-Ghali Meninggal

Haufan Hasyim Salengke
17/2/2016 22:03
Mantan Sekjen PBB Boutros-Ghali Meninggal
(AFP/JEAN-PIERRE MULLER)

SEORANG negarawan yang dihormati dan intlektual hukum internasional yang membawa pengalaman tangguh di lingkung bangsa-bangsa. Itulah gambaran sosok mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Boutros Boutros-Ghali di mata Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Komunitas internasional, Selasa (16/2) berduka setelah menerima kabar Boutros-Ghali, sekjen keenam PBB, meninggal dunia di Kairo, Mesir, di usia 93 tahun.

Bagi Ban, Boutros-Ghali tak hanya negarawan yang disegani tetapi juga memiliki pengalaman yang tangguh dan kekuatan intelektual mumpuni yang membawanya ke posisi puncak PBB. "Komitmennya untuk PBB - misi dan stafnya - tak dapat diragukan, dan segala yang ditinggalkannya tak terhapuskan," ungkap Ban.

Presiden Prancis Francois Hollande juga mempersembahkan penghormatan dan belasungkawa untuk Boutros-Ghali. Hollande menyebut Boutros-Ghali seorang warga Mesir yang hebat dan pelayan PBB yang mumpuni.

"Pesan-pesannya harus menjadi inspirasi untuk aksi masyarakat internasional pada saat Timur Tengah dilanda tragedi baru," kata Hollande.

Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond, menegaskan kontribusi Boutros-Ghali untuk urusan antarbangsa akan selalu diingat oleh komunitas internasional.

Boutros-Ghali adalah mantan Menteri Luar Negeri Mesir yang memimpin PBB selama salah satu periode tersulit yang dihadapi lembaga dunia ini. Kala itu perdamaian dunia menghadapi tantangan dari pergolakan dan krisis di Somalia, Rwanda, Timur Tengah, dan negara-negara pecahan Yugoslavia.

Diplomat kawakan Mesir itu menjadi sekretaris jenderal pertama PBB dari kawasan Afrika pada 1992. Namun masa jabatannya berakhir tiba-tiba lima tahun kemudian ketika Amerika Serikat memveto masa jabatan kedua Boutros-Ghali.

Setelah serentetan percekcokan dengan pemerintah AS, Washington berbalik melawan Boutros-Ghali dan memutuskan untuk mendukung diplomat Ghana, Kofi Annan, untuk jabatan sekretaris jenderal di akhir 1996.

Di bawah masa jabatannya, PBB memperluas misi penjaga perdamaian, tetapi keputusan memilih mundur dari Rwanda menjelang genosida 1994 dan dari Bosnia Srebrenica setahun kemudian dipandang sebagai kegagalan yang menyedihkan. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya