Ribuan Orang kembali Tinggalkan Suriah

Yanurisa Ananta
06/2/2016 03:00
Ribuan Orang kembali Tinggalkan Suriah
(AFP/THAER MOHAMMED)

PULUHAN ribu warga Aleppo, Suriah, memenuhi perbatasan Turki setelah melarikan diri dari wilayah mereka menyusul gempuran pasukan Suriah yang didukung Rusia ke kota itu, kemarin.

Serangan tersebut memutus jalur suplai ke kota terbesar kedua di Suriah itu.

"Ribuan rakyat, terutama perempuan dan anak-anak, menunggu untuk masuk ke Turki," ungkap Direktur Syrian Observatory for Human Rights, Rami Abdel Rahman, kemarin.

Lembaga pemantau yang berbasis di London, Inggris, itu memperkirakan 40 ribu warga Aleppo menyelamatkan diri akibat serangan pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad itu. Serangan itu mengakibatkan 300 ribu orang terisolasi.

Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, pada sebuah konferensi di London, Inggris, mengatakan sebanyak 60 ribu-70 ribu orang menuju Turki untuk menyelamatkan diri.

Sementara itu, 10 ribu yang lain menunggu di perbatasan karena serangan udara terus menggempur Allepo.

Turki saat ini menampung sekitar 2,5 juta pengungsi Suriah.

Video yang dirilis aktivis pada Kamis (4/2) menunjukkan ratusan orang, termasuk anak-anak, bergerak menuju perbatasan Turki. Mereka membawa kantong-kantong plastik.

"Kami terusir dari rumah kami oleh Rusia, Iran, Bashar dan Hezbullah (milisi Syiah di Libanon)," ujar seorang anak dalam video itu.

"Kami memohon (PM Turki Recep Tayyip) Erdogan untuk mengizinkan kami masuk."

Karena gelombang baru pengungsi itu, pemerintah Turki sejak kemarin pagi menutup perbatasannya di Oncupinar, yang berbatasan dengan pos perbatasan Suriah, Bab al-Salama, di utara Aleppo.

Tutup suplai

Sejak pertengahan 2012, Kota Aleppo terbagi dua, yaitu bagian timur dikuasai kelompok pemberontak dan bagian barat dikuasai pemerintah.

Pada Rabu (3/2), jalur suplai pasukan pemberontak ke Turki diputus tentara pemerintah yang disokong Rusia.

"Tujuan (pemerintah) berikutnya ialah menutup perbatasan dengan Turki untuk mencegah kedatangan pasukan dan senjata, kemudian merebut Provinsi Aleppo, kemudian Provinsi Idlib, dan akhirnya Kota Idlib," katanya.

Pada gempuran kemarin, pasukan Suriah yang didukung jet-jet tempur Rusia merebut Kota Ratyan di utara Aleppo. Mereka juga merebut markas pemberontak di Daraa.

Lebih dari 260 ribu orang tewas dalam konflik Suriah. Lebih dari setengah penduduk negeri itu mengungsi.

Bank Dunia, Kamis lalu, memperkirakan perang itu telah membebani Suriah dan negara tetangga (Turki, Libanon, Yordania, Irak, dan Mesir) sebesar US$35 miliar.

Serangan ke Aleppo itu dilakukan di tengah upaya Dewan Keamanan PBB untuk berkonsultasi dengan utusan khusus PBB, Steffan de Mistur.

Perundingan perdamaian Suriah di Swiss Rabu (3/2) ditunda sampai 25 Februari.

Sementara itu, Arab Saudi yang mendukung oposisi Suriah mengatakan pihaknya siap bergabung dengan operasi koalisi pimpinan AS melawan Islamic State (IS) di Suriah.

"Jika koalisi punya keinginan untuk melakukan operasi darat, kami pasti akan berkontribusi," kata Brigadir Jenderal Ahmed al-Assiri dari militer Arab Saudi.

(AFP/Aya/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya