Perundingan Damai Suriah Terganjal

Haufan Hasyim Salengke
01/2/2016 20:23
Perundingan Damai Suriah Terganjal
((Martial Trezzini/Keystone via AP))

Utusan khusus Pererikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah menghadapi tugas berat di Jenewa, Swiss untuk memuluskan perundingan damai Suriah. Pasalnya, kelompok oposisi menujukkan keengganan duduk satu meja untuk bernegosiasi dengan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Pihak yang hadir di Jenewa adalah kelompok oposisi utama Komite Negosiasi Tinggi (HNC), yang didukung Arab Saudi, dan perwakilan dari rezim Presiden Al-Assad.

Dalam prasyarat yang diajukannya, HNC menegaskan rezim Al-Assad harus mengijinkan lembaga kemanmusiaan menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah yang dikepung tentara pemerintah. Syarat lainnya adalah menyetop pengeboman terhadap target sipil dan melepaskan para tahanan.

Seorang diplomat Barat mengatakan, pada Minggu (31/1) utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura mencoba meyakini HNC dengan sejumlah proposal dalam pembicaraan di sebuah hotel di Jenewa, tetapi mereka masih ragu-ragu.

"Kami semata-mata datang ke Jenewa setelah komitmen tertulis tentang fakta bahwa akan ada kemajuan serius pada isu-isu kemanusiaan," kata juru bicara HNC Basma Kodmani, Senin (1/2).

Ia menambahkan, "Kami di sini untuk negosiasi politik tapi kita tidak bisa mulai semua ini hingga kami melihat adanya komitmen dari mereka," jelasnya.

Tapi kepala negosiator pemerintah, Bashar al-Jaafari, yang bertemu De Mistura pada Jumat (29/1), menyebut pihak oposisi 'tidak serius'.

Masalah pelik lainnya adalah soal kelompok pemberontak akan dilibatkan dalam pembicaraan meskipun semua pihak setuju dengan pengecualian IS dan Front Al-Nusra, cabang Al-Qaeda di Suriah. Kelompok pemberontak Tentara Islam adalah bagian dari delegasi HNC yang berpartisipasi ke Jenewa. Sementara kepala negosiator HNC dan anggota Tentara Islam Mohammed Alloush diharapkan tiba di Jenewa.

Penunjukkan Alloush telah menjadi kontroversi. Sekutu Suriah, Moskow, menganggap Tentara Islam sebagai 'teroris' dan kelompok oposisi lainnya bersikeras tidak dapat menerima delegasi yang akan dipimpin oleh seorang anggota dari kelompok bersenjata.

Namun Alloush menepis kritikan tersebut. "Bashar al-Assad adalah teroris sesungguhnya," ujarnya.

Urgensi pembicaraan untuk menemukan solusi mengakhiri perang sipil Suriah itu dinodai serangan bom mobil dan bom bunuh diri di dekat permakaman suci komunitas Syiah di selatan Ibu Kota Damaskus. Setidaknya 71 orang tewas dalam insiden tersebut.

Ledakan itu diklaim Islamic State (IS), kelompok ekstremis yang menguasai sejumlah bagian wilayah Suriah dan Irak. Kelompok ini juga dalang di balik serangan mematikan di Paris pada November, yang menewaskan 130 orang.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini, mengatakan kekejaman baru di Suriah itu jelas ditujukan untuk mengganggu upaya untuk memulai proses politik. (AFP/Al Arabiya/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya