Puluhan Pegungsi Tewas Tenggelam

Hym/AFP/I-2
01/2/2016 01:15
Puluhan Pegungsi Tewas Tenggelam
Dua polisi Turki mengangkat jenazah bocah laki-laki Suriah ke kantong mayat di pantai Canakkale, Bademli, Turki, kemarin.(AFP/OZAN KOSE)

SEBUAH kapal yang membawa imigran menuju Eropa tenggelam di lepas pantai Turki, Sabtu (30/1), waktu setempat.

Sedikitnya 37 jenazah, di antaranya perempuan dan anak-anak, terdampar di lepas pantai Kota Ayvacik, Provinsi Canakkale, Turki.

Anak-anak yang tewas dan terdampar di pantai itu mengingatkan pada tragedy Aylan Kurdi, bocah Suriah yang ditemukan tewas di lepas pantai Turki, September 2015.

Sejumlah anak lainnya, yang jumlahnya belum dipastikan, juga terseret arus setelah kapal yang membawa mereka dan keluarga mereka menuju Pulau Lesbos, Yunani, tenggelam di lepas pantai Turki.

Para pengungsi itu kebanyakan dari Suriah. Yang lainnya dari Afghanistan dan Myanmar.

Seorang pejabat Turki mengatakan penjaga pantai mengangkat 37 mayat dari lokasi kejadian. Sebelumnya, penjaga pantai mengatakan 75 orang diselamatkan.

"Kami sangat sedih. Sedikitnya 20 rekan kami hilang," ujar seorang perempuan pengungsi yang diselamatkan.

Kapal pengungsi yang terbalik itu dapat dilihat dari jarak 50 meter dari lepas pantai kota itu. Jaket pelampung dan barang-barang para pengungsi berserakan di perairan dan di pantai. Penjaga pantai masih terus menyelam untuk mencari pengungsi lainnya.

Sementara itu, petugas medis memasukkan korban-korban yang tenggelam itu ke kantong mayat.

Turki merupakan jalur utama warga Suriah yang mengungsi akibat perang saudara sebelum menuju Eropa. Sedikitnya 2,5 juta warga Suriah mengungsi ke negeri itu. Jumlah pengungsi yang tewas tenggelam saat menuju Eropa terus meningkat.

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mengatakan sepanjang tahun lalu sedikitnya 4.000 orang tewas saat di tengah laut.

Sepanjang bulan ini saja, sudah 244 pengungsi tewas di laut. Yang terbaru, Kamis (28/1), ketika sedikitnya 25 orang pengungsi, 10 di antaranya anak-anak, tewas di perairan Pulau Samos, Yunani.

Gelombang pengungsi dari Suriah dan negara-negara lainnya menuju Eropa telah memicu perpecahan di 'Benua Biru' itu.

Kanselir Jerman Angela Merkel dikecam keras negara-negara Eropa lantaran pernyataannya yang dinilai memberi lampu hijau bagi para pengungsi.

Merkel mengatakan para pengungsi Suriah dan Irak yang menetap di Jerman harus kembali ke negeri mereka setelah perdamaian tercipta.

Dia mencontohkan 70% pengungsi dari bekas Yugoslavia di Jerman pada 1990-an telah kembali ke negeri mereka setelah situasi aman.

Merkel juga berbeda pendapat dengan negara Eropa lainya soal pemberian dana bagi Turki untuk mengatasi arus pengungsi.

Pemerintah Turki pada November lalu mencapai kesepakatan dengan Eropa untuk menghentikan arus pengungsi dengan imbalan sebesar US$3,2 miliar. Namun, kesepakatan itu gagal mencegah para pengungsi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya