Pemerintah junta Thailand, Kamis (20/8), mengatakan pelaku serangan bom di Kuil Erawan di pusat Kota Bangkok amat mungkin tidak berkaitan dengan jaringan kelompok teror global meskipun seorang warga asing telah diidentifikasi sebagai dalang utamnya.
"Tampaknya (serangan bom itu) bukan kerja sebuah kelompok teroris internasional," ungkap juru bicara pemerintah, Kolonel Winthai Suvaree, sembari menambahkan, "Warga Tiongkok bukan sebagai target langsung dari serangan tersebut."
Serangan bom yang menyasar salah satu lokasi wisata terpopuler di Bangkok, Senin (17/8) malam, itu menewaskan 20 orang dan melukai sedikitnya 120 lainnya. Sebanyak 13 warga mancanegara, empat warga Tiongkok, Indonesia, Hong Kong, Malaysia, dan Singapura, di antara korban yang tewas.
Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan itu, memicu berbagai teori dan spekulasi pemicu serangan. Di antara teori yang muncul adalah serangan bom itu merupakan serangan balas dendam terkait langkah Bangkok yang mendeportasi 100 warga etnis Uighur muslim ke Tiongkok, atau dilancarkan oleh kelompok islamis.
Namun pihak berwenang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan, Rabu (19/8) malam, untuk seorang warga asing yang tidak disebutkan namanya berdasarkan rekaman CCTV. Pemerintah juga telah menawarkan hadiah 1 juta baht (Rp390 juta) bagi siapapun yang bisa memberikan informasi tentang pelaku.
Kepala Kepolisian Thailand, Somyot Poompanmoung, menyatakan rencana serangan bom Bangkok itu setidaknya telah dipersiapkan oleh pelaku lebih dari satu bulan dan dieksekusi oleh lebih dari 10 orang.
"Peledakan ini dilancarkan oleh sejumlah tim. Saya meyakini jaringan itu memiliki keterkaitan dengan orang-orang di dalam Thailand," ujar Poompanmoung kepada para wartawan.
Dia menjelaskan analisisnya itu bahwa setidaknya pelaku atau pelaksana utama amat mungkin tidak akan mampu bergerak tanpa bantuan dari sejumlah orang untuk menyurvei lokasi. Termasuk memetakan strategi jalan pintas untuk melarikan diri dari keramaian saat jam sibuk.
Menyusul serangan mematikan yang mengguncang 'Negeri Gajah Putih' itu, kepolisian mengatakan akan melakukan investigasi di area-area penting terkait di penjuru Kota Bangkok.
"Mulai hari ini (Kamis) kami akan bergerak dan melakukan 'x-ray' area-area dalam dan luar Bangkok," kata juru bicara polisi, Prawut Thavornsiri, tanpa menjelaskan apakah bakal ada serangkaian penggerebekan.
Adapun Winthai mengatakan 67 pasien yang terluka oleh ledakan masih berada di rumah sakit sementara sekitar 56 lainnya sekarang telah meninggalkan fasilitas kesehatan. Selain itu pihak berwenang juga masih memverifikasi identitas dua orang yang meninggal.
Secara terpisah, Kamis (20/8), Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-ocha mengatakan dia tidak akan menghadiri upacara peringatan bagi para korban di kuil pada Jumat (21/8). Dia beralasan banyak kekhawatiran yang berkembang akan keselamatan nyawanya.
"Saya tidak akan pergi ke sana (Kuil Erawan) atas saran dari otoritas keamanan saya. Saya tidak takut mati tapi saya takut orang lain mungkin mati bersama saya saat risiko saya meningkat dari hari ke hari," ujarnya dalam sebuah acara resmi di Bangkok. (AFP/BBC/Q-1)