Pendekatan Multidisiplin untuk Memaksimalkan Pengobatan Kanker

(Nda/H-1)
07/4/2017 06:00
Pendekatan Multidisiplin untuk Memaksimalkan Pengobatan Kanker
(thinkstock)

UNTUK pemaksimalan pengobatan kanker, kini tidak hanya mengandalkan dokter-dokter onkologi. Psikolog ataupun sosiolog bisa dilibatkan agar pasien tetap bersemangat men-jalani pengobatan yang pada umumnya memakan waktu lama. Hal itu dikatakan Ketua Perhim-punan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) kepada wartawan dalam rangka simposium dan workshop The Role of Internist in Cancer Management (Roicam) ke-5 yang diselenggarakan di Jakarta pada 6-9 April ini. Prof Dr Arry Harryanto Rekso-diputro SpPD-KHOM, Ketua Perhompedin, membenarkan bahwa saat seseorang divonis mengidap kanker, kondisi pasien langsung drop dan merasa tidak perlu berobat karena lama sembuhnya. “Maka perlu pendekatan sosial dan psikologis untuk menyemangati hidup pasien.’’

Sosiolog bisa memantau bagaima-na kehidupan sehari-hari pasien. Kemudian dari psikolog bisa membantu pasien untuk tetap semangat menjalani pengobatan jangka panjang. “Dengan memahami kondisi pasien diharapkan bisa memaksimalkan pengobatan,” ujar Arry dalam jumpa pers jelang Roicam ke-5 di RS Kanker Dharmais, Kamis (6/4). Pengobatan holistik itu menjadi salah satu bagian yang akan dibahas dalam. Menurut Arry, kanker ialah penyakit yang kompleks sehingga membutuhkan pendekatan holistik. Selain itu, para dokter hematologi dan onkologi medik akan memberikan pelatihan kepada para dokter penyakit dalam untuk bisa mendapat informasi banyak hal tentang kanker dan tata laksana bagaimana menangani pasien kanker.

Arry menambahkan, saat ini dokter hematologi dan onkologi medik masih sangat sedikit. Untuk dokter onkologi baru 200 orang, dan 3.000 hingga 4.000 dokter penyakit dalam. “Kebanyakan dokter onkologi itu adanya di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.” Ketua Panitia Roicam Dr Cosphiadi Irawan SpPD-KHOM menambahkan saat ini beban akibat penyakit kan-ker di Indonesia terus meningkat. Pembiayaan kanker oleh BPJS Kesehatan sudah menghabiskan hingga Rp2,5 triliun pada 2015. Diakui Cosphiadi, dengan BPJS pasien kanker bisa terbantu, “Tapi tidak seluruhnya ditanggung.’’ (Nda/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya