Jangan Telat Tangani Depresi

Indriyani Astuti indriyani@mediaindonesia.com
07/4/2017 05:31
Jangan Telat Tangani Depresi
(KEMENKES R)

BADAN Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 3,7% atau sekitar 9,2 juta penduduk Indonesia di 2015 mengidap depresi. Tingginya estimasi WHO tersebut nyaris senada dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang menyebutkan 6% atau lebih dari 10 juta penduduk di Tanah Air mengalami depresi dan gejala cemas berlebihan. Saat ditemui di ruang kerjanya kemarin, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek menyatakan depresi adalah masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian. Musababnya, mengutip data WHO, depresi merupakan penyebab utama terjadinya disabilitas. Rata-rata 7,5% per tahun muncul kasus disabilitas yang disebabkan depresi yang tidak ditangani dengan baik.

Depresi juga dapat menurunkan produktivitas kerja dan sangat memengaruhi kondisi fisik dan medis umum seseorang. “Depresi dapat menyebabkan perilaku yang tidak sehat. Misalnya merokok, pola makan menjadi tidak sehat, gangguan tidur, kurang aktivitas, dan ketidakpatuhan berobat,” ungkap Menkes. Berdasarkan riset empiris medis, depresi juga berpengaruh langsung secara biologis pada tubuh sehingga dalam jangka waktu lama (kronis) dapat memengaruhi organ-organ tubuh, misalnya ke pembuluh darah. Bila tidak tertangani, penyakit ini bisa menyebabkan kematian akibat bunuh diri. Depresi, lanjut Menkes, juga tidak hanya terjadi pada re-maja. Depresi juga bisa terjadi pada ibu yang tengah hamil.

Penyakit
Oleh WHO, pada 2021, depresi diprediksi menjadi penyakit terbesar kedua terbanyak di dunia. Tidak mengherankan jika pada Hari Kesehatan Dunia 7 April, WHO mengangkat tema Depression: Let’s talk. Oleh Indonesia, tema tentang depresi itu juga diambil dengan mengambil tema Depresi: Yuk curhat. “Sebetulnya deteksi dini depresi atau terapi dini yang bisa dilakukan cukup sederhana, yaitu jika keluarga melihat gejala seperti tiba-tiba malas, tidak ada motivasi, semakin banyak merokok, ada dugaan yang bersangkutan mengalami gejala awal depresi. Untuk itu, keluarga/teman atau tenaga kesehatan bisa menjadi tempat untuk menyalurkan keluh ke-sahnya,’’ jelas Menkes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Keswa & Napza Fidiansjah menyatakan, bagi awam depresi sering diartikan sebagai gangguan psikotik atau skizofrenia (gila). Padahal itu jauh berbeda. Gejala utama depresi ialah perasaan sedih, minat menurun, mudah lelah, lalu diikuti dengan gejala lainnya.
Misalnya, penurunan konsentrasi , kepercayaan diri, dan harga diri. Merasa bersalah, kurang tidur, pesismistis, dan sebagainya. Gejala-gejala seperti itu berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Menurut Fidiansjah, jika di lingkungan kita ada yang mengalami depresi, sebaik-nya kita dekati dan dam-pingi. “Ajaklah orang tersebut menemui profesional kesehatan jiwa atau tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang menerima konseling atau layanan kesehatan jiwa,” papar dia. Fidiansjah berpesan, sejati-nya depresi itu ialah jenis penyakit, tidak terkait dengan rasa kurang bersyukur atau bahkan gila. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya