Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
WARGA menyebut Dusun Cicadas RT 03/RW 01 Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari, Karawang, sebagai salah satu permukiman kompleks Jawa. Pasalnya, sekitar 23 kepala keluarga di kampung itu merupakan penduduk transmigrasi dari wilayah Wonogiri, Jawa Tengah, yakni tahun 1970-an memilih untuk pindah akibat pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Kompleks permukiman warga Wonogiri yang rimbun dan tertata rapi tersebut menjadi pembeda dengan dusun lainnya di desa tersebut. "Monggo...monggo..., masuk, Mas," ungkap wanita paruh baya dengan logat Jawa-nya. "Tunggu sebentar Mas, silakan duduk dulu," lanjutnya sambil berlari menuju sebuah kamar. Mereka merupakan transmigran dari wilayah Wonogiri karena sejumlah rumah mereka tinggal di Jawa Tengah terkena dampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur pada tahun 1970-an.
Oleh pemerintah saat itu, warga diminta untuk transmigrasi ke Kalimantan. "Mereka ada yang ingin tetap bertani, tetapi tidak mau keluar dari Pulau Jawa," ujar perempuan kelahiran 1 Januari 1966. Sumini, meski lahir di Wonogiri, mengaku sejak kecil justru besar di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, bersama adik ibunya, Siti Syamsiah, yang saat itu bersuami yang bekerja di polres setempat. "Di sana saya diajarkan untuk hidup mandiri. Saya sering membantu untuk ngasih makanan untuk tahanan atau bekerja paruh waktu. Setelah lulus sekolah dasar di SDN Pangandud 1, saya mulai menyusul kedua orangtua saya, yakni Sanuri dan Kaminem ke Karawang. Itu sekitar tahun 1979-an," ujarnya.
Dia pun melanjutkan SMP PGRI Telagasari. Namun, baru saja duduk di sekolah menengah pertama, layangan lamaran menikah dari seorang guru pegawai negeri sipil (PNS) sekolah dasar setempat kepada Sumini datang. "Tahun 1980, saya menikah dan itu pun saya menikah hanya menggunakan baju daster," kenangnya. Dari hasil pernikahan Sumini dan Senen, lahir tiga orang anak, yakni Budihartini, Dwimulyani, dan Adi Triwibowo. Pada 2004, suaminya meninggal karena sakit. Dirinya yang ditinggal oleh Suami mengaku kebingungan harus berbuat apa. Dari anak pertamanya, Budihartini, yang saat itu pun seorang honorer di sekolah dasar (SD), mengenalkan temannya yang saat itu bergabung ke dalam Pekka (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga). Selang beberapa tahun, Sumini pun kembali dirundung duka. Anaknya yang pertama Budihartini pun meninggalkannya untuk selamanya karena sakit jantung.
Tidak mau terus berselimut duka, dia mencoba terus bangkit dari keterpurukan hidup. "Kemudian di Pekka saya mencoba untuk terus aktif, sampai saya harus menemukan peluang-peluang untuk membiayai diri saya dan anak-anak," katanya. Dia yang memiliki hobi bertani kemudian mulai membentuk tiga kelompok tani wanita untuk mengembangkan pertanian dan pengelolaan tanaman kedelai di kampungnya. "Dari tiga kelompok itu, cuma sisa satu kelompok dan satu kelompoknya itu sekitar 10 orang," kata dia. Di lahan 350 meter persegi, kelompok petani kedelai tersebut mulai menanam setelah mereka selesai memanen padi. "Satu tahun itu kami hanya sekali panen (kedelai). Karena memang kami harus menunggu tanaman padi terlebih dahulu. Kemudian hasil panen kedelai dari lahan sekitar 350 meter itu kami simpan dilumbung atau hasilnya sekitar 2 ton untuk memenuhi produksi olahan tempe, yang setiap harinya kami produksi 10 kilogram," kata dia. Uang hasil penjualan tempe tersebut kemudian akan dikumpulkannya ke kas kelompok untuk kebutuhan penambahan produksi. "Tempe ini kami jual dengan harga Rp2 ribu per buaha, keuntungan dari 10 kilogram itu bisa Rp50 ribu," kata dia.
Menjaga anak putus sekolah
Setelah suaminya meninggal, Sumini mengaku kesulitan karena harus banting tulang. Dengan kegigihannya, sejumlah anaknya pun mendapatkan sejumlah pendidikan yang layak. Dia bercerita setelah suaminya meninggal, hanya anak pertamanya Budihartini yang saat itu telah lulus kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan kemudian menikah. Namun, dua anaknya yang lain, Dwimulyani dan Adi Triwibowo, masih duduk dibangku kuliah dan sekolah dasar. "Meski saya berpendidikan rendah, saya harus bisa memberikan pendidikan yang layak buat anak-anak saya. Kalau dihitung setelah suami saya itu meninggal, saya cuma punya penghasilan sekitar Rp1,4 juta. Bagaimana caranya, ya saya mesti usaha ini, bikin tas, bikin baju, pinjam sini. Namun, Alhamdulillah Tuhan selalu ngasih jalan. Dua-duanya anak saya saat ini sudah lulus kuliah semuanya dan menjadi pengajar," kata dia.
Sumini juga mengangkat empat orang anak putus sekolah untuk diberikan permodalan usaha oleh dirinya. Keempat anak tersebut, yakni Mehong, Arab, Ano, dan Oman. Mereka semua merupakan teman sepermainan Adi Triwibowo anak bungsu Sumini dari kampung tetangga. Melihat kurang beruntungnya keempat anak tersebut, Sumini pun mencoba memberikan bantuan permodalan kepada mereka dengan memberikan 84 ekor burung puyuh untuk mereka kembangkan. "Saya bilang kepada mereka, kalian boleh berhenti sekolah, tetapi adik-adik kalian jangan sampai putus sekolah," ujarnya. Saat ini keempat anak tersebut masih terus mengembangkan sejumlah peternakan puyuh.
"Saya tidak ambil untung apa pun, biarkan mereka yang mengelolanya. Paling hanya bantuan pas awalnya bibit dan pakan selama beberapa bulan," paparnya.
Dirinya mengakui sangat tersentuh dan terharu ketika melihat banyak anak yang putus sekolah yang seharusnya mereka mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, karena keterbatasan biaya, mereka harus terhenti di jalan. Dia bercita-cita, dengan keahliannya mendesain dan menjahit serta keahlian kreativitas tangan, ingin membangun rumah kreatif untuk menampung anak-anak putus sekolah yang saat ini sangat kesulitan mencari penghasilan. "Saya sudah jual cincin dan giwang (anting) emas saya. Rencananya akan saya gunakan untuk modal membeli kain dan alat-alat untuk membuat seprai dan tas," ujarnya. Dirinya bersama kawan-kawannya yang lain berhasil mendirikan sekolah pendidikan anak usia dini pada 2009 silam dengan nama PAUD Anggrek Ceria untuk menampung anak-anak Desa Cadaskertajaya. "Paudnya didirikan pada tahun 2009 dan baru bisa berjalan tahun 2010. Saat ini saya hanya sebagai pengelola," kata dia. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved