Patuh Berobat Kunci Cegah Komplikasi Diabetes

(Ric/H-3)
05/4/2017 05:14
Patuh Berobat Kunci Cegah Komplikasi Diabetes
(thinkstock)

DIABETES melitus merupakan penyakit yang bisa menimbulkan berbagai komplikasi berbahaya, seperti gagal ginjal, stroke, jantung koroner, kebutaan, dan luka kronis di kaki (diabetic foot). Kepatuhan terhadap prosedur pengobatan ialah kunci utama pencegahannya. Sayangnya, berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, rata-rata 50% pasien menghentikan pengobatan dalam waktu 12 bulan sejak memulai pengobatan. Hal itu juga terjadi pada pasien dengan tingkat pendidikan tinggi. "Beberapa kali saya menemukan kasus mereka yang well educated seperti pengacara dan akademisi justru setop pengobatan ketika sudah merasa enakan. Hal ini sangat menjengkelkan," ucap dokter konsultan endokrin metabolik diabetes Benny Santosa dalam diskusi bertajuk Kepatuhan Berobat dapat Mencegah Komplikasi Diabetes Tipe 2, di Jakarta, akhir Maret lalu.

Tidak jarang, lanjut Benny, pasien yang menghentikan pengobatan kembali memeriksakan diri dengan kadar gula darah yang meningkat drastis. "Hingga saat ini diabetes belum dapat disembuhkan, tapi bisa dikontrol dengan pengobatan. Kepatuhan pasien sangat penting karena diabetes merupakan penyakit kronis yang pengobatannya bersifat jangka panjang, bahkan bisa seumur hidup," ujar dokter yang berpraktik di RS Gading Pluit, Jakarta, itu. Menurut Benny, penghentian pengobatan umumnya terjadi karena faktor kesibukan pasien. Pasien lupa mengonsumsi obat karena padatnya aktivitas harian. "Oleh karena itu, penyuluhan dari dokter juga penting. Kita (dokter) juga harus introspeksi apakah sudah sering melakukan penyuluhan, sering juga karena menumpuknya pasien, waktu berbicara dengan pasien justru singkat," imbuh Benny.

Ketika pesan tentang kepatuhan berobat itu tidak tersampaikan, sering kali pasien justru mendengarkan masukan yang keliru dari tetangga atau orang sekitar, termasuk saran untuk menghentikan pengobatan. Ketidakpatuhan pasien dalam berobat itulah yang membuat diabetes jadi tidak terkontrol. Ditambah lagi, banyak pasien diabetes yang tidak rutin melakukan pengecekan kadar gula darah. "Diabetes bukan penyakit yang langsung menimbulkan gejala mengganggu. Dia (diabetes) akan berasa di tubuh ketika sudah ada komplikasi. Itu sebabnya, kepatuhan berobat dan pengecekan gula darah teratur menjadi penting," terang Benny.

Obat herbal
Pada kesempatan itu, Benny juga mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menyikapi tawaran obat herbal yang umumnya belum melalui tahap penelitian untuk memastikan efektivitasnya. “Ini yang kadang mempersulit pengobatan, pasien sudah merasa lebih baik sehingga merasa tidak perlu lagi mengonsumsi obat. Atau mereka khawatir karena menurut tetangga, teman, atau saudara obat dari dokter bisa merusak ginjal atau lever. Pasien pun menghentikan pengobatan lalu beralih ke obat herbal yang sebetulnya belum pernah diteliti secara ilmiah," tutur Benny.

Ia menambahkan, selain patuh mengikuti prosedur pengobatan, pasien diabetes harus menerapkan gaya hidup sehat, seperti membatasi asupan gula dan rutin berolahraga. "Kadang dengan penerapan gaya hidup sehat saja gula darah bisa terkendali. Jadi, kalau memang pasien bisa lepas obat (gula darah terkontrol tanpa konsumsi obat), akan lepas obat," pungkasnya. (Ric/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya