Beragam untuk Saling Mengisi

Ade Alawi,Denny Parsaulian Sinaga,dan Syarief Oebaidillah
30/3/2017 06:46
Beragam untuk Saling Mengisi
(Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin -- MI/M. Irfan)

UPAYA memperkukuh empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia) semakin menghadapi tantangan.

Berbagai cara dilakukan sebagian kalangan untuk terus memperlemah hal itu. Bahkan, tak tangung-tanggung yang disasar kalangan anak-anak. Seperti dalam video berdurasi 58 detik di dunia maya yang menampilkan sejumlah siswa SD masih berseragam merah-putih mengagungkan dua bendera bertuliskan Arab yang biasa digunakan kelompok fundamentalis.

Selain itu, beredar pula surat pengafiran dan stigma munafik dari seorang anak ke rekannya yang dituding mendukung calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di jejaring Facebook.

Untuk membedah fenomena ancaman terhadap kebinekaan Indonesia, wartawan Media Indonesia, Ade Alawi, Denny Parsaulian Sinaga, dan Syarief Oebaidillah mewawancarai Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Wawancara dengan mantan Wakil Ketua MPR itu didampingi Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenag, Mastuki, di ruang kerja Menag di Gedung Kementerian Agama, Jakarta, kemarin. Berikut petikannya:

Pelemahan terhadap 4 pilar kebangsaan terus dilakukan, bahkan menyasar anak-anak, seperti video anak SD yang meng­agung-agungkan bendera bertuliskan Arab yang dikhawatirkan menyemai antikebinekaan. Bahkan, ada tulisan yang beredar di Facebook seorang anak yang mengafirkan rekannya dalam konteks pilkada DKI. Bagaimana tanggapan Anda?
Kita harus memahami dunia anak dalam pertumbuhan dan pembentukan karakter merupakan hal terpenting. Ahli pendidikan anak mengingatkan agar anak-anak kita tidak diberikan hal yang kontradiktif.
Apalagi kontradiksi hanya sebatas pada penekanan nilai baik dan nilai buruk. Apalagi dalam politik dan keberpihakan pada pilihan yang ada. Perosoalannya, bukan pada nilai. Opsi memilih A dan B itu tidak tepat melibatkan anak pada politik praktis. Anak juga belum punya hak pilih dan belum punya kemampuan cukup mencerna itu secara hitam putih.
Jadi, hal ini ini harus dihindari. Jangan libatkan anak dalam hal yang tidak ada urgensinya pada petumbuhan karakter anak. Justru pada anak kita sejak dini harus ditanamkan keberagam­an. Sejatinya keberagaman dan kemajemukan itu given atau sunnatullah sebagai kehendak Tuhan. Sebab kita beragam untuk saling mengisi dan menyempurnakan.

Soal muatan antikeberagaman kan sebelumnya pernah mencuat di dalam buku pelajaran beberapa waktu lalu. Apakah memang dunia pendidikan tengah dibidik untuk menolak keberagaman?
Kami meminta lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren untuk mendeteksi perkembangan anak kita juga di masyarakat. Ini harus dicermati apakah faham ekstrem itu dianut oleh siswa. Di sini guru juga harus bertanggung jawab. Terkait dengan adanya buku ajar yang menyimpang, kita membentuk task force atau gugus tugas mencermati buku buku yang berbeda dengan faham keagamaan kita.

Kurikulum Kemenag sudah jelas visi kebinekaannya. Tapi bagaimana dengan lembaga pendidikan Islam yang tidak mengikuti kurikulum Kemenag. Apa tindakan Anda?
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag sudah ada kesepakatan dengan kantor-kantor wilayah Kemenag untuk memantau lembaga pendidikan agama dan madrasah.
Menurut kami, jumlah mereka ini kecil. Jika ada yang tidak dapat ditoleransi, kita berkoordinasi dengan lembaga keamanan. Ini pertaruh­an besar dan kita punya pengalaman sejarah adanya upaya menyeragamkan yang tidak disepakati mayoritas sebab keberagaman merupakan realitas kita.
Maka, kehendak menye-ragamkan apalagi melibatkan anak usia dini harus dihindari, dan jika bersinggungan dengan 4 pilar kebangsaan, negara harus menyikapi.

Apa saja sih program Kemenag untuk menangkal radikalisme?
Kementerian Agama berada pada tataran preventif, sedangkan kuratifnya pada lembaga keamanan. Kita mengedepankan pemahaman agama yang moderasi karena moderasi itu paling relevan dengan kemajemukan kita.
Moderasi lawannya ialah ekstrem. Hanya dengan mo­derasi kita bisa menghargai dan meghormati perbedaan. Pemahaman moderasi inilah yang sejak dulu dilakukan para pendahulu kita.
Hasil riset lembaga penelitian UIN Jakarta menemukan makin menguatnya radikalisme di kalangan siswa di Jakarta. Bahkan, konservatisme di sebagian kalangan masyarakat juga semakin menguat. Ada gejala apa ini?
Dewasa ini memang ada kecenderungan populisme dan ada kerinduan hal itu (konservatisme). Ini juga gejala umum. Presiden Donald Trump di Amerika Serikat dan Eropa mengarah hal itu. Kompetisi hidup juga keras serta praktik ketidakadilan marak di semua aspek kehidupan.
Nah, orang ingin merespons praktik ketidakadilan secara instan sebab mereka tidak sabar lagi dengan pendekatan hukum dan lain-lain. Mereka mau mengambil jalan pintas yang hitam-putih seperti ­khilafah, ini menarik mereka yang merasa dilemahkan dan tidak berdaya.

Apa solusinya?
Menurut saya, ini kerja kita bersama, bagaimana meminimalisasi praktik ketidakadilan agar orang percaya pada sistem dan tidak mengambil sistem lain yang juga belum tentu teruji. Terpenting juga kita kembali pada esensi ajaran agama yang melindungi dan menghormati harkat dan martabat manusia. Bukan sebaliknya, menegasikan kemanusian. Bila ada ajaran yang merendahkan kemanusian, itu pasti bukan ajaran agama. (X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya