Saat Memutus Lingkaran

Riz/*/M-4
26/3/2017 06:57
Saat Memutus Lingkaran
(Grafis/Caksono)

BERBAGAI kisah pedofilia belakangan bak lingkaran setan yang tak berujung. Kebanyakan pelaku merupakan korban sodomi saat kecil.

Untuk memutus mata rantainya, menurut Seto Mulyadi, hukum yang diberlakukan sebenarnya sudah cukup bagi pelaku, seperti kebiri atau hukuman mati. Namun, sesungguhnya, kita jangan hanya fokus pada hukuman bagi pelaku, tetapi juga pada kepedulian terhadap korban karena kadang-kadang korban tidak dibawa ke psikater karena tidak punya biaya.

"Mungkin di satu sisi kekerasan seksual ini ada mendapatkan kenikmatan dan ketagihan atau bisa juga dendam dan pelampiasan, itu mekanisme dalam psikologi korban akan mencari sasaran-sasaran baru jika tidak mendapatkan treatment psikologis," ujar Kak Seto.

Orangtua juga harus jeli akan perasaan anak yang menjadi korban pedofilia. "Yang bisa dilihat adalah dari ekspresi anak ketika pulang dari suatu tempat, sikap anak yang menarik diri (enggak bisa tidur, mogok sekolah, enggak doyan makan), dan jangan menyudutkan perasaan anak," kata Kak Seto. Anak dilatih mendengar kata hati dan intuisinya.

Senada dengan Seto, Veni Siregar juga mengatakan anak perlu direhabilitasi untuk hidup normal seperti sedia kala. Hal itu disebabkan konsultasi butuh banyak biaya.

"Biaya konseling saja itu mahal, yang kami tahu yang paling murah itu Rp100 ribu, yang paling mahal bisa Rp1 juta, itu harus ditanggung korban. Rumah Aman saja belum ada di DKI, harus cari sendiri. Biaya proses pemulihan ini kan panjang, maka siapa yang harus membiayai, sehingga kalau proses hukum untuk pelaku itu sudah ada, tapi korbannya mau diapakan, pemulihan seperti apa, apa hanya berupa santunan cukup? Apalagi mereka mayoritas miskin, datang ke psikolog meskipun gratis mereka kadang tidak punya ongkosnya," lanjut Veni.

Sementara itu, Kementerian Sosial, kata Khofifah, menyediakan pusat penyuluhan sosial salah satunya melalui mobil antigalau. "Banyak orang galau, tapi dia tidak tahu konsultasi ke mana. Kalaupun tahu, mereka tidak punya uang untuk konsultasi, informasi-informasi seperti itu harus sampai ke masyarakat, ada konsultasi gratis dan lain sebagainya," jelasnya.

Sayangnya, pengunjung mobil antigalau kebanyakan ibu yang mendeteksi perkembangan anggota keluarga mereka. "Orang yang berkonsultasi itu bukan orang yang bermasalah, mereka ingin saja konsultasi karena ingin dapat second opinion terhadap suatu hal," kata Khofifah.

Saat ini ada 62 mobil antigalau yang tersebar di 61 kabutapen/kota di Indonesia. Awalnya mobil itu bernama mobil Penyuluh Sosial Keliling. Namun, karena kurang menarik perhatian, itu diganti menjadi Mobil Antigalau Restorasi Sosial.

"Begitu diganti namanya, animo masyarakat begitu banyak. Kemudian kami harus mengadakan banyak mobil karena banyak daerah memerlukan. Kami mempunyai mobil LK3, yaitu mobil Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga, itu mirip mobilnya dengan (mobil antigalau) kami dan sudah tersebar di 61 kabupaten/kota dan sekarang jumlahnya sudah ada 62 mobil. Dua ada di pusat dan 60 tersebar di daerah," imbuh Kepala Pusat Penyuluhan Sosial Kementerian Sosial Tati Nugrahati saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Fasilitas yang ada di mobil itu ialah ruang konsultasi, ruang sosialisasi, serta ada pula mobil yang bentuknya bak terbuka sehingga dimanfaatkan untuk acara senam, mengobrol, dan lain-lain. "Tenaga kerja yang terlibat dalam satu mobil itu ada pekerja sosial, tenaga kesejahteraan sosial kecamatan, psikolog, penyuluh sosial, konselor, tokoh masyarakat, dll," pungkas Tati.

Masyarakat, kata Khofifah, juga berperan penting untuk pemulihan korban. Masyarakat harus memberikan suasana lingkungan yang kondusif sehingga tercipta sebuah psycosocial recovery area bagi para korban.

"Masyarakat juga (harus) mencari solusi, jangan distigma, itu penting. Misalnya ini korban, sudah menjadi korban dan mereka kemudian di-bully oleh lingkungannya, ini kan kemudian akan tambah sakit. Jadi tolong berikan suasana kondusif untuk menjadi psychosocial therapist. Lingkungan menjadi sangat penting dalam menguatkan anggota keluarganya," pungkas Khofifah. (Riz/*/M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya