2 Dekade Jakarta Krisis Air Baku

Putri Rosmalia Octaviyani
26/3/2017 06:37
2 Dekade Jakarta Krisis Air Baku
(Grafis/MI)

SUMBER air baku Jakarta sejak 1997 didominasi sumber-sumber dari luar wilayah Jakarta. Keterbatasan sumber air baku di Jakarta sangat memenga­ruhi ketahanan air.
Hingga kini pasokan air baku ke ibu kota Indonesia itu berasal dari Waduk Jatiluhur 81%, PDAM Kabupaten Tangerang 15%, dan sisanya hanya 4% air baku yang berasal dari sungai-sungai di Jakarta.

Untuk memenuhi air baku di Jakarta, salah satu solusinya ialah pengolahan air bersih dan air limbah terintegrasi. “Kita selama ini belum pernah berpikir tentang air bekas. Padahal, itu bisa menjadi salah satu solusi menambah kapasitas air,” kata Direktur Utama PT PAM Jaya Erland Hidayat dalam acara peringatan Hari Air Sedunia yang diselenggarakan di instalasi pengolahan air (IPA) Palyja TB Simatupang, Jakarta, kemarin.

Hingga saat ini, baru sekitar 60% rumah tangga di Jakarta terlayani air bersih dari kedua mitranya, yakni Palyja dan Aetra. Padahal, terdapat 13 sungai yang mengalir di sekitar wilayah DKI Jakarta.

“Yang perlu kita kuatkan selain pengembangan teknologi juga edukasi publik karena kebiasaan hidup bersih dan komitmen mereka untuk mau menjaga. Maka mulai memperbaiki kondisi sungai jadi salah satu kunci peningkatan air baku,” ujar Erland.

Solusi pengolahan air limbah dan air bersih secara terpadu, lanjut Erland, merupakan solusi yang harus dilakukan segera agar krisis air baku di Jakarta bisa diatasi.
Pengelolaan air limbah itu sudah dibahas antara Palyja dan Aetra. “Kami akan membuat konsep kerja sama. Kerja sama membangun pengelolaan terpadu air limbah di IPA TB Simatupang Jakarta,” terang Erland.

Kekurangan air bersih
Pada kesempatan sama, Head of Corporate Communication and Social Responsibility PT Palyja Meyritha Maryanie menambahkan saat ini 10 juta penduduk Jakarta membutuhkan air bersih sebanyak 26.100 liter per detik. Namun, operator penyedia air bersih di Jakarta hanya mampu memasok air sebanyak 17.000 liter per detik. Artinya, sampai saat ini masih ada defisit air bersih sebanyak 9.100 liter per detik.

“Untuk Palyja sendiri saat ini kami memasok air sebanyak 9.400 liter per detik. Jumlah tersebut baru saja bertambah pada Februari ini, dari sebelumnya sebanyak 8.600 liter per detik,” ujar Meyritha.

Dari seluruh pasokan air yang dikelola Palyja, sekitar 95% di antaranya merupakan pasokan dari luar Jakarta. Beratnya pencemaran air di Jakarta membuat upaya untuk memasok air dari sungai-sungai di Jakarta menjadi berat dan membutuhkan biaya yang besar.

“Air sungai di Jakarta mengandung amonia yang sangat tinggi. Itu yang menjadi masalah,” ujar Meyritha.

Untuk mengatasi hal tersebut, dikatakan Meyritha, saat ini tengah dilakukan pengembangan teknologi untuk memusnahkan zat-zat dan bakteri berbahaya di sungai. Teknologi bernama Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) tersebut digunakan untuk menyaring polutan yang terlarut dalam air baku, seperti amonium. Polutan tersebut biasanya berasal dari kandungan sampah padat atau limbah rumah tangga yang terlarut pada sumber air baku.

Teknologi tersebut sudah dijalankan di Palyja di IPA Pejompongan sejak 2015. Tahun lalu teknologi MBBR juga dibangun di IPA Cilandak. Teknologi itu dapat menghilang­kan 70% kadar amonia dalam air baku Kali Krukut. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya