Awasi Jajanan Sekolah

Kristiadi
19/3/2017 07:28
Awasi Jajanan Sekolah
(BPOM menguji jajanan anak di Jakarta. -- ANTARA FOTO/Reno Esnir)

ORANGTUA dan guru harus ekstra hati-hati mengawasi jajanan anak di sekolah. Banyak jajanan di luar sekolah tidak higienis.

GIRAN, 11, salah seorang siswa Sekolah Dasar Negeri Pengadilan 3 di Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, telah mengalami bengkak pada kedua gusi gigi setelah mengonsumsi jajanan di sekolah.

Hal tersebut terungkap setelah orangtua membawanya ke RS Jasa Kartini. Atas kejadian tersebut, orangtua bersama-sama melakukan pengawasan terhadap anak mereka saat jam istirahat.

"Hasil pemeriksaan dokter, anak kami mengalami pembengkakan pada gusi gigi setelah mengonsumsi makanan yang dibelinya, seperti cimol, nugget ayam, basreng, dan minuman es doger. Kini sudah empat hari belum masuk jam pelajaran mengingat kondisi wajah sebelah kiri dan kanan bengkak dan tentunya orangtua lainnya untuk tetap mengawasi anak mereka," kata Rani, 37, orangtua Giran.

Kejadian tersebut harus menjadi perhatian orangtua masing-masing agar anak tidak sembarangan membeli makanan yang mengandung zat berbahaya terutama berasal dari pasar yang masih banyak dijualbelikan pedagang. "Banyak yang dilakukan orangtua siswa menunggu anaknya sampai pulang dan tentunya mereka juga mengawasi anak-anak mereka saat membeli makanan pada jam istirahat.

Orangtua lainnya mengawasi di luar dan di dalam karena sekolah juga telah memiliki kantin yang sama berjualan makanan anak. Siswa kami di sekolah ini ada dua orang dan mereka juga tetap dalam pengawasan saat membeli makanan tersebut," ujarnya.

Pengawasan yang dilakukannya bersifat sendiri-sendiri, tetapi saat kejadian tersebut memang harus diawasi semuanya terutama saat membeli makanan yang dijual pedagang. "Kami juga sama menunggu anak sampai akhir pelajaran agar mereka tidak membeli makanan sembarangan, tetapi keduanya alhamdulillah tidak berpengaruh dengan pembelian makanan tersebut. Lebih baik membeli jus buah yang sehat," paparnya.

Selain di Tasikmalaya, di berbagai daerah lain di Tanah Air, jajanan sekolah juga masih mengkawatirkan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung, tak menampik banyak jajanan makanan di luar lingkungan sekolah tidak higienis.

Kepala Badan POM Kota Pangkalpinang Rossi Hartati mengatakan, sepanjang 2016, hasil uji sampel Badan POM memang tidak menemukan jajanan sekolah yang mengandung bahan berbahaya. Meski begitu, masih banyak dijumpai jajanan sekolah yang tidak higienis.

Jajanan sekolah tidak higienis itu, dikatakan Rossi, dapat dijumlah di setiap lingkungan di luar sekolah dasar (SD).

Para pedagang tidak memperhatikan faktor lingkungan, seperti berjualan di tepi jalan raya dengan kondisi makanan yang terbuka. "Pinggir jalan itu debu, banyak kendaraan yang melintas, ini jelas tidak higienis dan tidak baik bagi kesehatan anak-anak," terangnya.

BPOM intervensi sekolah
Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY I Gusti Ayu Adhi Aryapatni (Ayu) mengatakan tugas orangtua dan sekolah untuk mengawal jajanan anak. Sampai saat ini masih ditemukan jajanan anak di sekolah yang tidak memenuhi syarat.

Badan POM, dari 2010-2014, pernah punya program secara nasional, Aksi Nasional Jajan Anak Sekolah. Program tersebut setelah 2014 ditangani dinas kesehatan provinsi. "Saat kami masih melaksanakan program tersebut, setiap tahun (di DIY) 200 sekolah kami intervensi," kata dia ketika dihubungi melalui telepon, kemarin.

Selama lima tahun, ada sekitar 1.000 sekolah yang diintervensi, misalnya melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), bimbingan teknis (bimtek), dan inspeksi mendadak kepada sekolah-sekolah. Dengan cara itu, Badan POM memperoleh komitmen dari sekolah-sekolah agar menjajakan makanan yang sehat.

Program tersebut menyasar industri rumah tangga pangan (IRTP) sehingga setelah 2014 langsung ditangani dinas kesehatan.

Sekarang, pihak sekolah-sekolah sudah mampu men-screening sendiri jajanan yang tidak sehat. "Sekarang sudah sangat bagus (jajanan anak) di DIY. Ada penurunan (penjualan makanan-makanan yang tidak memenuhi syarat), di DIY sudah di bawah 2%," kata dia.

Badan POM DIY saat ini sudah menguji sampai uji mikrobiologi, tidak hanya uji kimia. Dari hasil uji kimia dan uji mikrobiologi, hasil yang didapat memang masih ada makanan dan minuman yang tidak memenuhi syarat.

Dari uji kimia, formalin di jajanan sekolah sudah tidak ditemukan. Bahan kimia yang paling banyak ditemukan adalah rhodamine B. Setelah ditelusuri, kebanyakan makanan tersebut dari luar DIY.

Dari hasil uji mikrobiologi, air dalam jajanan minuman dinyatakan tidak memenuhi syarat. Setelah diteliti lebih lanjut, kata Ayu, ternyata kualitas es batunya yang tidak memenuhi syarat. "Sumber air untuk membuat es batu tersebut (tidak bersih)," kata dia.

Bina ibu-ibu PKK
Di Cirebon, Jawa Barat, jajanan anak sekolah yang mengandung bahan berbahaya juga pernah ditemukan di sejumlah sekolah di Kota Cirebon. "Saat itu kami melakukan pembinaan terhadap sejumlah ibu PKK," kata Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Kota Cirebon Ripin Ependi, kemarin.

Itu termasuk pembinaan mengenai zat-zat berbahaya yang terkandung dan ditambahkan pada makanan, juga jajanan anak-anak di sekolah. Pembinaan tersebut dilakukan pada 2015 lalu.

Ibu PKK itu kemudian mengambil sampel sejumlah jajanan yang ada di beberapa sekolah di Kota Cirebon. Saat itu, dari 22 kelurahan, hanya 9 kelurahan yang mengambil sampel jajanan dari sekolah yang ada di daerah mereka.

"Rata-rata jajanan diambil dari SD. Ada juga TK," kata Ripin. Dari 111 pemeriksaan sampel, ada 39% yang positif mengandung bahan makanan berbahaya seperti boraks, rhodamine B, dan formalin.

Menindaklanjuti temuan tersebut, pihaknya yang saat itu masih berstatus Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kota Cirebon langsung bekerja sama dengan sejumlah sekolah, termasuk Dinas Pendidikan Kota Cirebon, untuk segera menegur dan memberikan pembinaan terhadap pedagang di sejumlah sekolah.

Ripin mengaku pengawasan terhadap jajanan anak sekolah terus mereka lakukan, termasuk bekerja sama dengan instansi terkait seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kota Cirebon.

Orangtua dan sekolah harus terus peduli dengan jajanan di sekolah. Yang paling aman, orangtua selalu membekali makanan anak-anak dari rumah sehingga makanan yang dikonsumsi anak-anak bisa lebih terkontrol.

Di sisi lain, pihak sekolah juga harus bisa menjamin jajanan yang dijual memenuhi syarat. Misalnya, pihak sekolah mengelola sendiri jajanan yang diberikan. Anak-anak juga harus mengerti soal higienitas. Artinya, tidak hanya makanan yang harus memenuhi syarat. Tangan dan alat untuk makan dan minum juga harus bersih. (AT/UL/RF/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya