Makmurnya Masjid Kami

AT/CS/Rio/*/M-1
05/3/2017 06:28
Makmurnya Masjid Kami
(youtube)

SUBUH selalu meriah di Masjid Jogokariyan, Kelurahan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Saf bisa mencapai sepertiga salat Jumat.

Namun, bukan cuma itu yang istimewa dari masjid yang per­gerakannya diinisasiasi Muhammad Jazir. Saat dijumpai pada diskusi Masjid Pusat Peradaban dan Pemersatu Bangsa, Senin (27/2), di Istiqlal, Jakarta, Jazir berkisah, masjid mesti terus berikhtiar untuk berdaya dan memberdayakan sekitarnya.

Masjid Jogokariyan yang dinamakan sesuai dengan kampung tempatnya berdiri, berbeda dengan lazimnya yang berbahasa Arab, punya kegiatan pemetaan, pelayanan, dan pemberdayaan.Pemetaan berwujud sensus masjid sehingga mengklasifikasikan muslim sekitarnya dengan ikon Kabah jika sudah berhaji, hingga koin untuk yang telah berzakat.

Data itu yang dijadikan penentuan metode pendekatan agar warga merapat ke masjid juga program pemberdayaan.

Di Kampung Jati, Tangerang, Banten, Masjid Al-Hidayah secara organik bertumbuh menjadi inklusif dengan menjadi wahana beribadah dan belajar santri di pesantren para penyandang tunanetra, Raudlatul Makfufin. Saf masjid di bagian kanan selalu disisakan buat santri yang kini tak bertongkat untuk menuju ke sana. Sembari beribadah, santri mengasah ketajaman sensorik.

Bagi Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruqutni, masjid idealnya memang jadi salah satu pusat pemberdayaan, termasuk dalam pertukaran ide dan kritik. “Masa-masa perjuang­an Indonesia merdeka berangkat dari masjid, jadi enggak apa-apa jika ada diskusi politik. Yang tidak boleh itu bersifat ingin menjatuhkan. Masjid harus berdiri di atas semua itu, melahirkan kedamaian, kebajikan.” (AT/CS/Rio/*/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya