Penggunaan Antibiotik Harus dengan Resep Dokter

22/2/2017 07:20
Penggunaan Antibiotik Harus dengan Resep Dokter
(THINKSTOCK)

BERAGAM kebiasaan buruk masyarakat dalam menggunakan antibiotik masih kerap terjadi. Di antaranya membeli dan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter, menyimpan dan menggunakan sisa antibiotik yang pernah dipakai, serta memberikan antibiotik kepada keluarga atau rekan untuk mengobati penyakit dengan gejala serupa. "Semua itu termasuk penggunaan antibiotik yang sembarangan. Risikonya bisa menimbulkan resistensi (kekebalan) bakteri terhadap antibiotik," ujar Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan, Hari Paraton, pada Pfizer Press Circle (PPC) yang digelar PT Pfizer Indonesia (Pfizer) di Surabaya, Jawa Timur, Senin (20/2).

Resistensi bakteri amatlah berbahaya. Ketika bakteri menjadi resisten terhadap suatu antibiotik, penyakit yang ditimbulkannya menjadi sangat sulit, bahkan pada sejumlah kasus menjadi tidak bisa diobati. Diperlukan antibiotik jenis lain yang harganya lebih mahal untuk memerangi bakteri resisten tersebut. Bahkan pada sejumlah kasus tidak ada antibiotik yang bisa melawan bakteri resisten itu. "Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak sesuai dengan indikasi, jenis, dosis, dan durasinya, serta kurangnya kepatuhan penggunaan antibiotik merupakan penyebab timbulnya resistensi," kata Hari yang juga dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Lebih lanjut ia menerangkan tidak semua penyakit infeksi perlu ditangani dengan memberi antibiotik. Antibiotik hanya digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi bakteri. "Antibiotik bukan untuk mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus, seperti kebanyakan kasus flu dan batuk," tegasnya.

Di rumah sakit
Pada kesempatan sama, Kepala Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSU Dr Soetomo, Usman Hadi, menjelaskan penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan prosedur juga terjadi di rumah sakit. "Berdasarkan penelitian, penggunaan antibiotik di berbagai rumah sakit di Indonesia 30%-80% tidak didasarkan pada indikasi. Selain itu, berdasarkan data penelitian WHO dan KPRA pada 2013 di enam rumah sakit pendidikan di Indonesia diidentifikasi bakteri penghasil ESBL (extended-spectrum beta-lactamase) 40%-50% resisten terhadap antibiotik golongan cephalosporin generasi 3 dan 4," paparnya.

Ia menambahkan, memang pada awalnya resistensi terjadi di tingkat rumah sakit, tetapi lambat laun juga berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya bakteri Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. "Untuk itu, pemberian dosis yang tepat dan perlunya kepatuhan penggunaan antibiotik pada terapi pengobatan penyakit infeksi merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan agar proses penyembuhan penyakit ini tidak menyebabkan resistensi," pungkasnya. (FL/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya