Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BILA deteksi dini kanker pada orang dewasa menjadi hal yang gencar disosialisasikan, tidak demikian pada anak-anak. Sosialisasi deteksi dini kanker pada anak hingga saat ini masih menjadi hal tersulit yang dapat dilakukan dalam riwayat penyakit kanker. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. "Anak berbeda dengan orang dewasa. Mereka belum bisa membedakan dan merasakan bila ada sesuatu yang salah dengan tubuh mereka. Itu salah satu yang membuat kanker pada anak semakin sulit terdeteksi dini atau dalam kondisi stadium awal," kata dokter spesialis anak, dr Edi Setiawan Tehuteru, dalam diskusi dan peringatan Hari Kanker Anak di Balitbang Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (20/2).
Edi mengatakan anak penderita kanker umumnya akan diperiksa ketika orangtua menyadari adanya suatu gejala tidak biasa pada tubuh anak mereka. Sayangnya, suatu gejala kanker umumnya menunjukkan tingkat keparahan penyakit yang sudah lanjut. "Kanker, ketika sudah menimbulkan gejala, hampir dapat dipastikan itu sudah pada stadium lanjut," ujar Edi. Satu-satunya jenis kanker anak yang menurut Edi dapat dideteksi dini ialah kanker bola mata atau retinoblastoma. Jenis kanker tersebut menjadi lebih mudah dideteksi karena menimbulkan perubahan warna dan pendar pada bola mata dalam keadaan gelap.
Selain itu, tingkat pengaruh genetik pada kanker tersebut juga sangat tinggi. Dengan demikian, keluarga umumnya akan disarankan melakukan pemeriksaan rutin pada anak sejak lahir hingga usia lima tahun bila memiliki riwayat anggota keluarga mengalami penyakit sejenis sebelumnya. Selain sulit terdeteksi dini, penyakit kanker pada anak tidak dapat dicegah. Kanker pada anak akan muncul tanpa sebab yang pasti. Hingga saat ini, di seluruh dunia belum ada penelitian yang dapat mengungkap secara pasti penyebab seorang anak dapat terkena kanker. "Namun, ada beberapa faktor yang diyakini menjadi penyebab atau pemicu kanker pada anak, yakni genetik, kimia, virus, dan radiasi," ujar Edi. Penemuan kanker pada anak yang umumnya sudah pada stadium lanjut membuat harapan hidup dan selamat bagi anak penderita kanker sangat kecil. Angka harapan hidup anak penderita kanker stadium lanjut umumnya di bawah 25%. "Tapi mayoritas saya tahu mereka tidak selamat karena memang sudah sangat sulit untuk diatasi bila stadium sudah lanjut," katanya.
Stadium lanjut
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2013, terdapat 16.291 kasus kanker pada anak berusia 0 hingga 14 tahun dan 50% di antaranya baru terdeteksi pada stadium lanjut. Data yang dihimpun Rumah Sakit Pusat Kanker Dharmais, Jakarta, juga menyebutkan, sepanjang 2006-2013, setiap tahun rata-rata hampir 50% anak penderita kanker datang dalam kondisi stadium lanjut. Jumlahnya juga terus meningkat setiap tahun. Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan setiap tahun lebih dari 175 ribu anak di dunia didiagnosis mengidap kanker. Sekitar 90 ribu di antaranya meninggal. Angka kematian anak yang terkena kanker mencapai 50% sampai 60%. Hal tersebut menobatkan kanker sebagai penyebab kematian kedua terbesar pada anak di usia 5 sampai 14 tahun.
Leukemia atau yang umum diketahui sebagai kanker darah menjadi yang terbanyak menyerang anak-anak. Posisi ketiga ialah kanker bola mata atau retinoblastoma, selanjutnya kanker tulang atau osteosarkoma, kanker jaringan saraf atau neuroblastoma, kanker getah bening atau limfoma, dan kanker tenggorok atau karsinona nasofaring. Direktur Pengendalian Penyakit tidak Menular (P2PTM) Kemenkes Lily Sulistyowati mengatakan, meski jumlah anak penderita kanker 'hanya' sekitar 2% dari seluruh penderita kanker, hal itu tidak boleh diremehkan. Selain mengancam nyawa, kanker pada anak memengaruhi banyak aspek, mulai keluarga hingga kehidupan sang anak sendiri bila akhirnya berhasil selamat dan sembuh dari kanker. "Biaya pengobatan kanker sangat mahal, tetapi tingkat keberhasilannya sangat kecil," ujar Lily. Oleh karena itu, katanya, diperlukan perhatian ekstra dari orangtua untuk memantau dan mewaspadai setiap gejala yang timbul pada tubuh anak.
Dikira biasa
Gejala kanker kerap dikira penyakit yang biasa dialami anak. Misalnya, demam, pucat, dan lesu. Namun, orangtua harus mewaspadai dan memeriksakan ke dokter lebih lanjut bila gejala-gejala tersebut berlangsung berulang dalam jangka waktu yang lama. Untuk pencegah yang lebih baik, pemeriksaan rutin juga sebaiknya dilakukan sejak masih dalam kandungan. Kanker juga dapat timbul ketika anak masih berada dalam kandungan. "Anak pada dasarnya senang bermain dan aktif. Bila mereka cenderung enggan bermain saja, seharusnya orangtua mulai memperhatikan lebih detail. Begitu juga sejak masih mengandung, pemeriksaan dan perhatian ekstra harus terus diberikan," katanya. Semua itu dilakukan untuk mencegah penemuan penyakit yang terlambat atau telanjur memasuki stadium lanjut. Salah satunya penyakit kanker. Langkah yang diperlukan ialah perhatian penuh dan pemeriksaan sejak dini ke rumah sakit. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved