Target Wisata masih Jangka Pendek

Putri Rosmalia Octaviyani
18/2/2017 03:41
Target Wisata masih Jangka Pendek
(ANTARA/Nyoman Budhiana)

PENGEMBANGAN sektor pariwisata oleh pemerintah saat ini dinilai masih terjebak pada rencana-rencana jangka pendek.

Target wisata hanya terfokus pada peningkatan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia.

Sementara itu, upaya pemeliharaan dan pengembangan kesejahteraan masyarakat sekitar destinasi wisata terabaikan.

"Pemerintah terlalu sibuk mengejar target kuantitas, khususnya jumlah wisman dan devisa. Memang wisata salah satunya bertujuan meningkatkan devisa. Tetapi, banyak aspek lain yang juga seharusnya tidak dilupakan," kata Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (Akses) Suroto dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Aspek lingkungan, ujarnya, merupakan salah satu yang kerap terabaikan dalam pengembangan wisata Tanah Air.

Destinasi wisata yang daya tahan lingkungan dan daya tampung wisatawannya sudah maksimum seharusnya tidak lagi dieksploitasi.

Selain itu, warga di sekitar destinasi wisata juga mayoritas belum sejahtera.

"Masyarakat di lingkungan destinasi wisata mayoritas dalam ekonomi terpuruk. Padahal, bila menggunakan pendekatan budaya, harus memberikan dampak sosial positif bagi mereka. Misalnya, di Bali, masih ada masyarakat yang menjadi pekerja rendah. Ini realitas yang tidak bisa disangkal. Jadi, manusianya harus dibangun," ujar Suroto.

General Manager Pacto Bali Prima Hollidays, Rika Larasati, di kesempatan yang sama mengatakan, pemerintah harus dapat memilah dengan baik strategi pemasaran dan pengembangan wisata di setiap destinasi.

Parameter kualitas dan kuantitas yang harus dicapai di setiap daerah berbeda dan harus dapat disikapi dengan tepat.

"Destinasi wisata yang peminatnya sudah tinggi seperti Bali, Gili, atau Yogya, infrastrukturnya mulai terbatas dan padat. Kalau dijejali lagi dengan parameter kuantitas, sangat tidak elok. Alangkah baiknya mulai difilter, karena kapasitasnya terbatas. Jadi harus fokus bagaimana membuat kualitas yang lebih baik hingga membuat spending wisatawan lebih besar," kata Rika.

Destinasi lain

Menurutnya, pengembangan wisatawan dengan target jumlah wisman yang tinggi akan lebih baik bila dilakukan di destinasi lain yang belum banyak dikunjungi.

Dengan demikian, dampak ekonomi secara perlahan akan dirasakan warga tanpa ada tekanan berlebih pada lingkungan sekitar destinasi.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana mengatakan, pengembangan pariwisata selama ini dilakukan dengan memerhatikan banyak aspek. Termasuk kualitas.

Dari sisi kualitas, pembangunan akses dan infrastruktur menuju dan di destinasi wisata saat ini terus dikebut.

"Target jumlah wisman 20 juta hanya salah satu target. Ada target-target lain yang lebih besar. Misalnya devisa, penyerapan tenaga kerja yang pada 2019 ditargetkan akan mencapai 13 juta orang dari sektor wisata," kata Pitana.

Meski begitu, berbagai dampak negatif pada destinasi akibat wisata, diakuinya memang kerap dan berpotensi terjadi.

Perbaikan di berbagai sektor, termasuk pengembangan SDM wisata, tambahnya, juga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.

(Pro/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya