Lulusan SD itu Mengajar di Enam Kelas

(Dede Susianti/J-2)
15/2/2017 03:20
Lulusan SD itu Mengajar di Enam Kelas
(MI/DEDE SUSIANTI)

SUPAYA bisa mengajar, para guru tidak melihat jauhnya jarak, kecilnya honor, atau besaran gaji yang didapat. Sering kali, untuk haknya yang kecil itu, mereka pun harus menunggu selama tiga bulan. Para guru bertahan karena terenyuh melihat semangat anak didik mereka. Bahkan, beberapa dari mereka menolak tawaran dari sekolah berkelas yang sudah memiliki fasilitas lengkap. Senin (13/1) pagi itu, bersama relawan Peduli Bogor Barat, Media Indonesia mengunjungi sekolah jauh yang menginduk ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sirna Asih, di Kampung Cisarua, Desa Banyuresmi, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

Letak sekolah berada di perkampungan yang dikelilingi gunung kawasan paling barat Kabupaten Bogor. Di sana kami bertemu dengan Siti Afifah, 17, sosok unik yang menjadi salah satu muruah di sekolah tersebut. Siti Afifah yang akrab dipanggil Ifah menjadi sorotan. Selain guru termuda, ternyata dia menjadi guru tanpa ijazah pendidikan khusus. Jauh dari laik sebenarnya jika kompetensinya dilihat. Ifah yang warga asli Kampung Cisarua menjadi guru dengan bekal ijazah Madrasah Ibtidaiah (MI/sederajat SD) Nurul Huda Citempuan, kampung tetangga. Dia mulai mengajar di sekolah yang kesohor dengan sebutan SD terpal (karena hanya beratap terpal dan berlantai tanah), sejak usia memasuki 14 tahun. “Sudah tiga tahun lebih saya di sini sebelum Pak Amit dan Bu Neni,” kata Ifah menunjuk guru tetap di sana.

Ifah yang berkulit putih terpanggil mengajar karena merasa kasihan pada Awal, guru perintis, yang kerepotan menangani enam kelas. Saat itu dirinya baru sembuh dari sakit. Meski cuma lulusan SD, tergolong langka di desa itu, Awal meminta bantuannya. Tak dinyana, Awal kemudian pindah mengajar ke sekolah lain. Ifah yang per 1 Januari 2017 melepas masa lajang mengajar semua mata pelajaran di enam kelas yang ada. Dia sangat kerepotan mengatur waktu. Akhirnya, ia menggabungkan semua kelas jadi satu.

“Saya mengajar di sini karena memikirkan pendidikan anak-anak. Kadang kehujanan, kebocoran, tapi anak-anak ini tetap semangat,” katanya. Semangatnya tak pernah surut meski kelelahan sebab ia melihat semangat anak-anak dalam cerminan dirinya. “Dulu jarak rumah dan sekolah saya sangat jauh, tapi saya tetap semangat karena mau belajar dan bersyukur ada guru yang mau mengajar. Kadang-kadang gurunya enggak ada. Itu jadi inspirasi saya mengajar. Kasihan anak-anak ini. Lagi pula saya tidak mau menganggur.”

Ifah berkeinginan meneruskan ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Katanya mau ambil paket biar bisa tetap mengajar. “Harusnya saya belajar lagi sekeluar dari SD. Memang dari dulu saya ingin belajar. Cuma lihat kondisi waktu, tidak memungkinkan. Saya dan orangtua memutuskan masuk pesantren,” ungkapnya. Sekali pun nanti berhasil mengikuti jenjang yang lebih tinggi, Ifah mau mengabdi di kampung itu lagi. “Insyaallah tetap di sini. Tetap di kampung ini, di sekolah ini. Saya ingin memberi pendidikan ke anak-anak di kampung saya sendiri, semampu saya.” Ifah tidak terlalu memikirkan besaran upah mengajar. Dia menerima berapa pun meski tiga bulan sekali. Kebutuhannya saat ini ditanggung suaminya. “Itu (upah) anggap bonuslah,” katanya tersenyum manis. (Dede Susianti/J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya