Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK penelitian menyebutkan hampir 100% penyakit kanker serviks disebabkan human pavillomavirus (HPV) yang menyebar melalui hubungan seksual. Namun, sebenarnya penyakit mematikan itu juga tersebar melalui nonseksual. Dr Ferdhy Suryadi Suwandinata SpOG mengatakan sekitar 10% hingga 15% penderita kanker serviks justru tertular HPV saat beraktivitas di luar hubungan seksual. Antara lain menyentuh sesuatu yang telah terkontaminasi oleh virus tersebut.
“Kita mungkin enggak sadar ketika ujung jari kita menyentuh sesuatu yang ternyata sebelumnya dipegang oleh orang yang positif HPV. Risikonya, kita juga bisa kena,” katanya saat diskusi media dengan topik Kanker Perempuan di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, pekan lalu. Dengan kata lain, ujarnya, risiko tertular virus kanker serviks bisa berasal dari mana saja. Namun, tidak ada gejala spesifik yang menandakan seseorang terkena kanker serviks akibat HPV nonseksual. Kondisi tersebut baru akan diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan pap smear yang menunjukkan HPV positif tanpa hubungan seksual.
“Sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk deteksi dini masih rendah. Hampir 70% kanker serviks diketahui sudah stadium lanjut,” tegas dokter spesialis kebidanan dan kandungan dengan subspesialis bedah kandungan dan tindakan pembedahan minimal invasif serta endokrinologi itu. Padahal, kanker serviks dapat dicegah. Selain dengan melakukan pap smear untuk mendeteksinya, masyarakat diharapkan dapat membiasakan hidup sehat dengan mencuci tangan seusai berkegiatan guna mengurangi risiko tertular virus HPV penyebab kanker serviks.
Vaksinasi
Ferdhy menjelaskan, untuk mencegah kanker serviks, sebaiknya vaksinasi dilakukan. Bahkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan anak sekolah dasar kelas 5 dan 6 atau usia di bawah 15 tahun diberi vaksin HPV. “Vaksinasi kanker di dunia baru ada dua, yakni kanker serviks dan kanker hati. Vaksinasi sebaiknya dilakukan tiga kali seumur hidup. HOGI (Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia) menganjurkan vaksinasi dilakukan pada usia antara usia 10 hingga 55 tahun,” terang konsultan fertilitas tersebut.
Ia juga menambahkan, idealnya pemberian vaksin dilakukan saat seseorang belum pernah hubungan seksual. Di sisi lain, dr Vera Nevyta Tarigan selaku dokter spesialis radiologi Siloam Hospitals Kebon Jeruk menekankan kanker serviks bukanlah satu-satunya jenis kanker yang patut diwaspadai. Faktanya, saat ini kanker payudara paling banyak dialami perempuan Indonesia. “Kanker payudara bisa dideteksi dini dengan sadari (periksa payudara sendiri), mamografi, maupun USG,” katanya. (Mut/H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved