Perempuan Penggerak Lingkungan dari Desa Bumiayu

(M-2)
09/2/2017 04:00
Perempuan Penggerak Lingkungan dari Desa Bumiayu
(MI/AKHMAD SAFUAN)

PERJALANAN hidup menjadi penggerak sosial wanita kepala keluarga telah ditekuni Siti Akhidah, yang baru menempuh pendidikan Kejar Paket B, lebih dari 10 tahun. Meskipun tidak dibayar untuk bimbingannya itu, ia dengan ikhlas menjalani, termasuk ketika rasa letih menghinggapi saat malam tiba.

Tanpa sadar dengan ekonomi orangtua yang serbaterbatas, Siti Akhidah berhasil mengantarkan tiga adiknya menyelesaikan pendidikan, bahkan di antaranya ada yang telah menyelesaikan perguruan tinggi dan kini semua telah bekerja. “Kondisi sekarang cukup lebih baik karena tanggungan hidup hanya tinggal kedua orang tua,” tambahnya.

Menjalani hidup yang serbakekurang­an dari segi ekonomi merupakan hal yang cukup sulit, apalagi ada tanggungan yang besar dan keterbatasan pendidikan formal. Namun, semua dijalani tanpa keluh kesah, termasuk ketika bahkan rumah tangga yang dijalani harus kandas berujung perceraian. Itu tidak sedikit mengundang hinaan dari orang-orang sekitar. Bagi Siti Akhidah, hinaan menjadi semangat untuk maju. Ia harus membuktikan diri, bekerja tanpa lelah dan ikhlas dalam menolong.

Waktu luangnya digunakan untuk belajar meskipun tidak formal di sekolah. Ia memiliki keinginan kuat untuk terus belajar dan bersemangat dalam menyerap ilmu.

Manfaatkan teknologi
Di tengah-tengah kemajuan teknologi informatika, Siti Akhidah memanfaatkan jaringan internet untuk belajar. Melalui jaringan internet yang ada, dia mulai menggali berbagai ilmu dengan menggunakan sebuah telepon seluler dan laptop yang selalu menemani di dalam tasnya. Tidak hanya ilmu-ilmu dalam bahasa Indonesia, ilmu dalam bahasa Inggris pun diserap. Dalam mengasah kemampuan berbahasa asing, terutama Inggris, perjalanannya cukup unik bagi kebanyakan orang. Siti Akhidah dapat berbahasa asing tanpa kursus atau belajar khusus bahasa. Ia menyerap ilmu hanya dari menonton film Barat di televisi dan membuka kamus untuk memahami ejaan.

“Saya bisa bahasa Inggris yang hanya dari televisi. Meskipun tanpa pembim­bing, saya berusaha menyerap dan memahami setiap kata dengan kamus bahasa,” ujarnya.

Berangkat dari hinaan yang diterima sejak kecil dan keterbatasan ekonomi keluarga serta ijazah yang dimiliki, Siti terus berjuang keras. Ia pun bangkit dari keterpurukan, baik itu untuk diri sendiri maupun adik-adiknya yang saat itu masih membutuhkan biaya pendidikan.

Siti merupakan satu dari sekian banyak perempuan yang memiliki kesadaran akan potensi yang dimilikinya. Potensi tersebut dapat dijadikan bentuk usaha yang dapat menghasilkan pendapatan keluarga guna membantu perekonomian keluarga. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya