Pikun, Giatlah Berkegiatan Sosial

Indriyani Astuti indriyani@mediaindonesia.com
08/2/2017 07:50
Pikun, Giatlah Berkegiatan Sosial
(thinkstock)

KEPIKUNAN kerap dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Terlebih pada manula. Namun secara medis, kepikunan bukanlah sebuah kewajaran. Kepikunan yang dalam istilah medisnya disebut demensia itu merupakan gejala sejumlah penyakit. Karena itu, harus dipastikan diagnosisnya, lalu diterapi. "Sekitar 60% kepikunan disebabkan alzheimer, penyakit progresif yang ditandai dengan kematian sel-sel otak. Selain karena alzheimer, kepikunan juga bisa disebabkan karena stroke, parkinson, infeksi, depresi berkepanjangan, dan trauma," ujar dokter spesialis saraf Yuda Turana seusai berbicara dalam seminar kedokteran Grand Kalbe Academia-Indonesian Neurologist Forum di Jakarta, Minggu (5/1).

Terkait dengan alzheimer sebagai penyebab terbanyak kepikunan, hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit manula itu. Terapi obat-obatan lebih ditujukan untuk memperlambat laju keparahannya. Namun, selain obat-obatan, aktivitas sosial juga penting. "Aktivitas dan kegiatan berkelompok sangat dianjurkan sebagai terapi demensia tahap ringan. Kegiatan bersama-sama dan melakukan aktivitas rutin menjaga otak tetap bekerja sehingga dapat menstimulasi fungsi kognitif otak. Aktivitas juga membantu menguatkan jaringan sel saraf pada otak," terang Yuda. Ahli neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya, Jakarta itu mencontohkan sejumlah kegiatan sosial tersebut seperti senam bersama, berkunjung ke teman-teman, serta bergabung dalam kegiatan komunitas.

Dampak positif kegiatan sosial pada terapi demensia yang disebabkan alzheimer sudah dibuktikan melalui studi ilmiah. Yuda menuturkan, sebuah penelitian membagi pasien demensia alzheimer menjadi empat kelompok. Grup pertama ialah kelompok yang rutin terapi dengan obat serta aktif berkegiatan kelompok, grup kedua terdiri dari pasien yang hanya menjalankan terapi obat, grup ketiga merupakan pasien-pasien yang tidak minum obat tapi aktif berkegiatan sosial, dan grup keempat tidak melakukan terapi obat ataupun aktivitas kelompok.

Lalu, keempatnya dibandingkan. Diketahui, kelompok yang melakukan terapi obat dan aktif berkegiatan menunjukan hasil yang paling baik. "Yang menarik, kelompok pasien yang hanya aktif beraktivitas dalam grup (tanpa minum obat) hasilnya lebih baik daripada pasien yang hanya minum obat. Berarti yang dominan bukan obatnya. Percuma kalau terapi obat saja tapi tidak mau berkegiatan aktif dalam kelompok. Tapi memang lebih baik dilakukan terapi obat sekaligus berkegiatan kelompok," tutur Yuda. Jadi, pesan Yuda, para manula yang mulai mengalami penurunan daya ingat sebaiknya aktiflah berkegiatan sosial.

Deteksi dini
Pada kesempatan itu, Yuda mengingatkan perlunya deteksi dini alzheimer. Dia mengatakan, dengan deteksi dan terapi sedini mungkin, laju kerusakan otak dapat diminimalkan. "Sayangnya, kalau baru terkena gangguan kognitif seperti pikun, biasanya masih dianggap normal dan tidak diperiksakan. Akibatnya, keluarga sering telat membawa pasien alzheimer ke dokter. Kerap kali, pasien baru diperiksakan setelah mengalami gangguan perilaku baru. Itu sudah tahap lanjut," papar Yuda.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia, DY Suharya. "Kebanyakan masyarakat menganggap pikun adalah penyakit tua, padahal lebih dari itu," tutur laki-laki yang akrab disapa DY itu. Ia pun menyarankan agar masyarakat mengenali gejala kepikunan yang dicurigai mengarah pada alzheimer (lihat grafik). Bila mendapati tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Sementara itu, Ketua Perhimpunan DOkter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Prof dr Hasan Machfoed mengungkapkan, penyakit neurologi degeneratif atau penyakit saraf yang dipengaruhi faktor penuaan, seperti alzheimer dan stroke masih menjadi tantangan di Indonesia.

"Jumlah penderitanya makin banyak. Hal itu karena meningkatnya kesadaran dan akses masyarakat untuk memeriksakan diri, juga karena perubahan gaya hidup yang kurang sehat," ujar Prof Hasan. Karena itu, pihaknya mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan edukatif seperti Grand Kalbe Academia yang menurutnya sangat bermanfaat menambah pengetahuan dan kemampuan para dokter saraf di Indonesia. Pada kesempatan sama, Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Vidjongtius menjelaskan Grand kalbe Academia merupakan kegiatan tahunan untuk mendukung program pendidikan kedokteran berkelanjutan. Sejauh ini, kegiatan itu sudah berjalan lima tahun di lebih 47 kota dan melibatkan 50 ribu peserta. Tahun ini, pemilihan tema Indonesia neurologist forum didasari data WHO yang menyatakan bahwa penyakit saraf merupakan salah satu tantangan terbesar dalam kesehatan masyarakat karena tingginya angka kematian dan disabilitas yang ditimbulkan. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya