Warga Mongolia Serahkan Harta Bantu Negara Bayar Utang

Andhika Prasetyo
04/2/2017 16:28
Warga Mongolia Serahkan Harta Bantu Negara Bayar Utang
(AFP)

MONGOLIA sedang mengalami krisis finansial karena belum bisa membayar utang terhadap utang-utangnya yang sebentar jatuh tempo. Menghadapi kondisi sulit negaranya itu, warga Mongolia berbondong-bondong menyumbangkan berbagai harta mereka, mulai dari uang tunai, perhiasan, emas, bahkan kuda.

Aksi mereka bukanlah karena sudah kelebihan harta dan bingung bagaimana menghabiskannya, melainkan untuk membantu pemerintah membayar utang negara sebesar US$600 juta yang jatuh tempo pada Maret mendatang.

Sejatinya, masyarakat Mongolia sedang berada dalam kondisi sulit. Mereka terpukul dengan kebijakan pemotongan kesejahteraan, meningkatnya biaya makanan dan bahan bakar. Ditambah lagi faktor musim dingin yang berat yang mengancam kehidupan ternak mereka.

Namun, semua itu tidak lantas membuat masyarakat menutup mata. Banyak dari mereka yang mengaku bersedia membantu. Dalam sepekan terakhir, setelah beberapa ekonom dan anggota parlemen menggagas kampanye bantuan untuk pemerintah, sumbangan dari warga mulai bermunculan.

Hingga saat ini tercatat sudah terkumpul dana sebesar 100 juta Tugrik atau sekitar Rp541 juta.

Negara di Timur Asia itu mengalami krisis ekonomi menyusul jatuhnya investasi asing, perlambatan pertumbuhan di negara tetangga Tiongkok dan merosotnya harga komoditas. Akibatnya, kini, mata uang Mongolia, Tugrik, kehilangan hampir seperempat dari nilai tahun lalu.

Sedianya, pemerintah Mongolia telah membuka pembicaraan dengan Tiongkok dan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) untuk meminta bantuan. Namun, sepertinya hal itu tidak cukup untuk bisa meyakinkan para investor.

Mereka khawatir dana talangan tidak dicairkan sesuai dengan tenggat waktu pembayaran obligasi Bank Pembangunan Mongolia sebesar US$580 juta bulan depan.

"Jika mereka gagal mendapatkan dana talangan dari IMF, dari mana mereka mempunyai dana untuk membayar utang itu?" ungkap seorang praktisi pasar modal di Hongkong.

Jika utang tidak terbayar, lanjutnya, maka pemerintah tidak mungkin mengajukan pembaruan utang untuk langkah pembiayaan ulang.

Masalah terbesar Mongolia saat ini adalah rendahnya cadangan mata uang asing untuk pembiayaan sepanjang tahun ini. "Kondisi itu yang menyebabkan para penanam modal mengamati dengan seksama perkembangan kesepakatan pemerintah dengan IMF," ujar praktisi di Legal & General Investment Management Simon Quijano

Menanggapi bantuan yang datang dari masyarakat, Perdana Menteri Mongolia Jargaltulga Erdenebat mengatakan pemerintah tidak bisa melarang aksi tersebut.

Namun, ia mengaku yakin negara akan segera mendapatkan solusi untuk pembayaran obligasi. Sementara, donasi dari masyarakat akan disalurkan ke bidang lain.

"Kabinet telah memutuskan untuk memberikan sumbangan sukarela itu ke sektor kesehatan, pendidikan serta infrastruktur publik," tambah Erdenebat.(Ifrasia/OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya