Koordinasi Tanggulangi Karhutla Semakin Padu

Antara
02/2/2017 08:33
Koordinasi Tanggulangi Karhutla Semakin Padu
(Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead (tengah) memberikan keterangan pers. -- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

BADAN Restorasi Gambut (BRG) menyebut koordinasi yang dilakukan pemerintah hingga masyarakat untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) semakin baik. Dari sini BRG optimistis potensi karhutla dapat teratasi dengan lebih baik di 2017.

"Saya optimistis dengan koordinasi yang sudah baik ini bisa terjaga. Kita melihat masih ada kebakaran tahun lalu, tapi berkat respons cepatnya semua pihak maka bisa diatasi," kata Kapela BRG Nazir Foead di sela-sela kunjungan kerja ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Kamis (2/2).

Sebagai antisipasi terjadinya karhutla, salah satunya pemerintah mengeluarkan aturan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Namun dampaknya, imbuh Foead, muncul keluhan kerawanan pangan oleh masyarakat petani di sejumlah daerah.

"Karena itu BRG ke Pulang Pisau ingin melihat langsung penerapan sawah tanpa bakar dengan menggunakan dekomposer dari mikroba. Kita belajar cara membuka lahan tanpa bakar di sini," ujar Nazir.

Cara alternatif ini ternyata bisa diterapkan untuk sawah tanpa perlu membakar, terbukti PH tanah naik, pirit turun, pupuk tidak perlu banyak karena sudah ada dari proses dekomposisi. Jika cara ini berhasil akan terus dikembangkan di Kalimantan Tengah dan juga di Sumatra Selatan, Riau dan Jambi.

Untuk lahan yang sudah lama tidur dengan tegakan dan tutupan yang cukup tebal memang akan lebih sulit pada awal menyiapkan lahannya. Namun untuk lahan yang memang sudah dimanfaatkan sebelumnya sehingga tidak perlu membersihkan simpuhan maka pembiayaan dan pengerjaannya akan lebih murah.

Untuk dekomposisi seharga sekitar Rp200 ribu untuk penyiapan lahan gambut seluas satu hektare (ha). Kalaupun butuh ekskavator untuk membersihkan simpuhan di lahan pertanian masyarakat banyak di Kalimantan dan Sumatra bertetangga dengan perusahaan.

"Jadi perusahaan bisa meminjamkan alat beratnya. Tahun lalu kan ada gerakan desa bebas api, perusahaan juga banyak yang berkomitmen untuk betul-betul membantu," ujar Nazir.

Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur dari Desa Pantik di Kabupaten Pulang Pisau Wagiman mengatakan penyiapan lahan sawah dengan dekomposer bernama BeKa ini memang membutuhkan lebih banyak tenaga, apalagi jika purun, daun, batang di sana lebih banyak.

Kabar baiknya, panen padi diperkirakan jadi dua kali dalam setahun, tidak seperti sebelumnya hanya satu kali setahun. Perkiraannya bisa mencapai enam ton per ha sekali panen dengan dekomposer ini.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya