Pilihan bagi Perempuan Karawang

(CS/M-1)
02/2/2017 07:51
Pilihan bagi Perempuan Karawang
(MI/ CIKWAN SUWAND)

MESKI sempat galau berat ketika ditinggalkan pasangan hidupnya, Ai Aisah mengaku merasa masih sangat beruntung ketimbang teman-temannya yang juga aktif di Pekka. Sebagian dari mereka pernah mengalami kejahatan seksual, juga aneka rupa pengkhianatan dari para lelaki. "Banyak teman yang pergi jadi TKI, tetapi tidak beruntung. Ada yang diancam sopir yang mengantarnya untuk berbuat mesum, lalu ada yang suaminya nikah lagi dengan uang hasil kerja istrinya," kata dia.

Berbagai isu yang melanda TKI, termasuk kisah-kisah pedih yang terus berulang itu membuat TKI kini bukan pekerjaan favorit di dusunnya. "Terkadang dahulu perempuan kita seolah dijual ke luar negeri oleh orangtuanya untuk jadi TKI. Alhamdulillah trennya sudah menurun, beberapa tahun terakhir kami terus melakukan sosialisasi tentang risiko-risiko itu dengan mengundang langsung para tokoh," kata Aisah.

Solusi agar tak jadi buruh migran, lanjut Aisah, diberikan dengan pelatihan keahlian seperti menjahit, membuat kue, dan merias. "Masing-masing memiliki keahlian dan pelatihan usaha. Saat ini yang berjalan pesat ialah kelompok kue. Mereka memasarkannya langsung ke warung-warung sekitar," katanya.

Koperasi bersama
Bagi perempuan yang ingin memiliki usaha, Pekka Karawang menyelenggarakan koperasi simpan pinjam. "Syaratnya hanya kesungguhan melakukan usaha. Pinjaman akan diberikan berdasarkan uang setoran sukarela. Aturannya tidak berat, dari pinjaman Rp1 juta mereka hanya perlu membayar Rp110 ribu setiap bulan selama 10 bulan. Kemudian uang hasil tahunan akan dibagi dua, menjadi keuntungan untuk anggota dan koperasi," kata Aisah.

Keuntungan koperasi sejak 2002 hingga 2012, lanjut Aisah, kini berwujud bangunan sekretariat di atas lahan seluas 386 meter persegi. "Tanah ini kami beli dengan harga Rp36 juta, kemudian dibangun dari para donatur," kata dia. Berkontribusi buat sekitar, juga berhadapan dengan birokrat dan lembaga, sungguh menjadi kejutan buat Aisah yang merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara yang lahir dari keluarga petani. Sejak kecil Aisah telah terbiasa ikut jadi buruh tani di musim panen dengan upah Rp30 ribu per hari.

Estafet kontribusi
"Orangtua saya memang sudah tiada, tetapi segala ajaran kehidupan keduanya tetap membekas. Mereka mengajarkan untuk hidup tidak bergantung pada orang lain, malahan harus dapat memberi. Walaupun saya perempuan, saya diajarkan untuk mandiri," kata Aisah. Bekal tentang pentingnya berkontribusi buat sekitar, lanjut Aisah, juga diestafetkan kepada anak laki-lakinya yang masih kelas 1 SMP.

"Saya ajarkan bagaimana dia harus menghargai perempuan. Lalu bagaimana laki-laki tanpa perempuan itu begitu hampa. Dia harus mengerti tanggung jawab seorang laki-laki kepada perempuan," ujar Aisah yang mengaku berharap betul buah hatinya menjadi anak yang membanggakan dan membahagiakan kaum hawa di sekitarnya.

"Perannya nanti menjadi ayah dan kepala keluarga, terhadap istri dan anaknya, secara penuh tanggung jawab," tutur Aisah yang kini bertahan hidup dengan bekerja serabutan, mengajar di PAUD, berdagang tas secara daring, dan menerima pesanan kue kering musiman.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya