Mengupas Kebangsaan Lewat Teatrikal

Nur Aivanni
23/1/2017 21:54
Mengupas Kebangsaan Lewat Teatrikal
(MI/Panca Syurkani)

ADA yang berbeda dengan hari ulang tahun Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Di usianya yang menginjak 70 tahun, hari istimewa tersebut diisi dengan pagelaran Teater Kebangsaan Tripikala, disutradarai Agus Noor, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Agus yang dikenal sebagai penulis prosa memang berniat untuk membuat pagelaran tersebut. Namun, ide kebangsaan yang dikemas secara apik dan menarik itu terlontar dari putri proklamator, Megawati Soekarnoputri.

"Kamu bisa menyampaikan hal-hal serius dengan cara santai, coba dong ngomong soal kebangsaan," kata Agus menirukan ucapan Megawati saat ditemui usai pagelaran, Senin (23/1).

Agus pun berhasil menuntaskan harapan Megawati. Terlihat para hadirin tak henti-hentinya menahan gelak tawa melalui ucapan, sentilan ataupun sindiran yang disampaikan oleh pemain selama 2,5 jam saat pertunjukan dilangsungkan.

Dukungan pemain yang handal kiranya juga menjadi penentu. Sedereet nama beken kiranya ikut menentukan jalannya permainan yang apik. Sebut saja, Butet Kartaredjasa sebagai Baginda Raja, Cak Lontong, Happy Salma dan Insan Nur Akbar (anak baginda raja). Sementara, Marwoto dan Susilo Nugroho sebagai adipati kerajaan.

Teatrikal tersebut bercerita tentang pencarian air suci Tripikala bagi kesembuhan Baginda Raja yang terkena penyakit misterius. Bagi yang berhasil menemukan air suci tersebut akan diangkat menggantikan kekuasaan Baginda Raja.

Penasihat kerajaan mengatakan bahwa air tersebut berada di tiga tempat berbeda. Dua pangeran, Lontong dan Akbar pun mencari dimana keberadaan air suci tersebut dengan didampingi seorang prajurit.

Pencarian itu pun mengantarkan mereka ke Sumatra Barat, Papua dan Jawa. Namun, ketika mereka berhasil menemukan tiga air suci itu, tak disangka kedua adipati kerajaan justru ingin menghancurkan mereka dan membawa kabur air suci kepada Baginda Raja.
Kejahatan yang dilakukan adipati pun terbongkar dan sekaligus mengungkap rahasia di balik sakitnya sang Baginda Raja.

"Aku edannya cuma pura-pura. Tripikala bukan sekadar air, Tripikala itu pelajaran, pelajaran kalau jadi pemimpin," ungkap Baginda Raja. Dari teatrikal tersebut, ada tiga pelajaran yang dapat diambil, pertama semangat persatuan. Kedua, rasa keadilan. Ketiga, keanekaragaman budaya.

Ujaran ataupun celetukan para pemain sebagian besar merupakan potongan-potongan dari topik pembicaraan terhangat yang ada di media sosial yang dituangkan ke dalam teatrikal tersebut. Sebut saja mengenai politik, kekuasaan, jabatan, hoax, makar, bahkan penistaan.
"Sambel itu lauk, dimakan, bukan dibuang. Artinya kamu menistakan sambel," ucap Adipati Susilo yang diikuti gelak tawa para hadirin.

Tak hanya itu, partai yang dipimpin oleh Megawati pun sempat disinggung. "Semua binatang kakak ngga takut, kecuali banteng ya," ucap Pangeran Lontong kepada sang adik, Pangeran Akbar saat berbincang mengenai hewan apa yang ditakuti.

Usai pagelaran, Presiden Jokowi pun mengatakan banyak pesan yang bisa ditangkap, terutama mengenai pentingnya persatuan. "Kita ini majemuk, kebhinekaan. Saya kira pesan itu yang tadi disampaikan dalam pertunjukan dan juga tetap mendahulukan kepentingan negara, kepentingan rakyat di atas kepentingan yang lain-lain," tandasnya.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya