Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGENAKAN celana pendek dan kaus berlengan tiga perempat, pemuda itu ramah menemui Media Indonesia di sebuah kafe di bilangan Bendungan Hilir, Jakarta. Dengan penampilan santai ditambah tato yang menghias tangan, orang mungkin menerkanya sebagai seniman atau pekerja kreatif. Profesi itu memang tidak salah, tetapi ada titel spesifi k yang melekat padanya, yakni youtuber. Dialah Reza (Echa) Nangin yang melejit pada 2012 berkat video yang berisi dukungan untuk Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama Joko yang kala itu maju untuk pemilihan kepala daerah DKI Jakarta.
Video berjudul Jokowi dan Basuki-What Makes You Beautiful by One Direction [Parody], yang dibuat di bawah payung Cameo Project itu hingga kini telah ditonton lebih dari 3,3 juta kali. Reza bisa dikatakan salah satu sosok yang telah memiliki bekal bersaing di era otomatisasi. Ia memiliki keahlian yang disebut survei tahun 2016 dari International Labour Organization (ILO), sebagai salah satu keahlian yang penting di era teknologi. Berkat keahlian di bidang digital, Reza tidak hanya terus produktif sebagai youtuber tetapi juga kebanjiran proyek dari berbagai produk konsumer.
Bersama Cameo Project yang dibentuk tahun 2008, ia membuat video untuk Bear Brand, Kopi ABC Susu, dan Astra Motor. Per bulan, perusahaan mereka meraih pendapatan Rp300 juta-600. Sebuah kesuksesan yang cukup mengejutkan jika mengingat karier yang diawali tanpa direncanakan di usia 29 tahun. “Saya belajar membuat video dari teman aja dan rajin buka Youtube. Setelah video yang viral di tahun 2012 itu baru saya berani menyebut profesi sebagai youtuber,” tutur Reza yang kini berusia 33 tahun. Berdasarkan pengalamannya, kesuksesan bidang digital bisa diraih tanpa syarat gelar akademik. Kunci keberhasilan lebih terletak pada kemampuan mengembangkan keterampilan menggunakan teknologi, daya kreativitas, dan mengembangkan jaringan.
Lapangan kerja
Reza yang memiliki gelar diploma musik, mengembangkan keterampilannya dengan belajar secara daring. Seiring dengan pekembangan perusahaan, ia dan rekan pendiri Cameo Project pun bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Karyawan mereka kini berjumlah 15 orang. Kisah suskes serupa dibuat Salman Al Farisy. Ia melintas jauh dari latar belakang pendidikan bidang perikanan menjadi praktisi dan konsultan digital marketing, konsultan media, dan pelatih bisnis UMKM.
Ia berkenalan dengan dunia daring dimulai dengan bekerja di warnet sembari berkuliah. Dengan kemahiran bidang teknologi digital dan relasi yang meningkat, pada 2009 ia bisa mendirikan perusahaan layanan media CGI Network bersama dengan empat orang rekan. Beberapa klien CGI Network adalah Bank Mandiri, BRI, Pertamina, Indosat, Bank Indonesia, Circle K, dan Shinzui. Nilai proyek yang mereka kerjakan mulai dari Rp10 juta-Rp3 miliar. Salman berpendapat peluang bisnis di dunia digital sangat besar dan menjanjikan. Pasar bisnis daring dalam negeri saja baru tergarap 50%. Mengenai tenaga kerja, Salman yang memperkerjakan 27 karyawan di CGI Network, tidak mensyaratkan latar pendidikan
di bidang teknologi atau sistem informasi.
“Bagi saya gelar sarjana TI atau SI itu hanyalah bonus, namun saya lebih suka merekrut calon pekerja yang kreatif dan memiliki pengaruh di media sosial. Tentunya juga yang memiliki passion karena tanpa passion bisa dipastikan orang itu tak akan mau belajar dan berkembang,” jelas pria 35 tahun ini. Passion itu antara lain dilihatnya lewat jejak postingan di media sosial.
Manusia tidak tergantikan
Perkembangan sektor digital dan internet dengan berbagai lini usahanya bisa juga dilihat dengan kehadiran perusahan-perusahaan e-commerce asing di Indonesia. Lapangan kerja yang diciptakan tidak kecil. JD.com yang hadir di Indonesia sebagai JD.id, telah menciptakan 300 lapangan kerja di Tanah Air. JD menjadi perusahaan e-commerce terbesar ketiga dunia setelah Amazon dan Ebay. JD.id yang lahir di Indonesia sejak 2015 tahun ini berencana menambah jumlah gudangnya. “Jumlah karyawan kita sekitar 300 orang. Dan tahun ini kita berencana menambah gudang yang berarti membutuhkan tambahan karyawan sekitar 50% (dari yang ada) karena kita sifatnya business to consumer sehingga memang perlu gudang,” jelas Head of Corporate Communications & Public Affairs JD.id, Teddy Arifi anto, Kamis (19/1).
Dari jumlah karyawan yang sudah ada, jumlah karyawan bidang digital berkisar 40 orang. Bidang digital ini termasuk marketing, media sosial, hingga search engine optimizer. Penambahan karyawan di tahun ini juga mencakup ke bidang TI. Seluruh karyawan yang ada, menurut Teddy, berasal dari Indonesia. “Talent di sini sebenarnya banyak dan bagus-bagus. Literasi digital dan background pendidikan juga sudah memenuhi kebutuhan kita. Namun, memang kita tetap ada training yang lebih untuk pemahaman environment kerja,” tambah Teddy yang sebagian besar pekerjanya berlatar pendidikan sarjana.
Ia pun optimistis perkembangan sektor digital dan teknologi komunikasi dan informasi akan mencetak lapangan kerja besar di Indonesia. Meskipun sektor-sektor itu banyak menggunakan teknologi, kenyataan tenaga kerja manusia tetap tidak tergantikan. “Walaupun sekarang dikatakan era automatisasi namun kehadiran manusia tetap tidak tergantikan. Bukan saja untuk pekerjaan yang sifatnya melayani, tapi memang kreativitas manusia tetap tidak tergantikan,” tambahnya.
Ia menyarankan tenaga kerja Indonesia juga harus mengembangkan karakter yang tanggap, adaptif, dan mampu berakselerasi sesuai sektor industri yang serba cepat. Keyakinan akan tidak tergantikannya tenaga kerja manusia juga dikatakan Salman Al Farisy. Otomatisasi yang juga terjadi di sektor bisnisnya tetap tidak mampu menggantikan para karyawan. “Di bidang saya tools untuk membantu pekerjaan sangat banyak. Tapi itu tetap tidak menggantikan orang. Tenaga kerja tetap dibutuhkan karena mereka adalah think tank di balik tools. Tools itu hanya membuat pekerjaan jadi lebih cepat,” tegasnya. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved