Perjuangan di Dalam dan Luar Rumah

(Her/M-4)
22/1/2017 08:37
Perjuangan di Dalam dan Luar Rumah
(MI/ ADAM DWI)

SUARA batuk-batuk kecil tidak mampu ditahan Alissa Wahid ketika kami mengambil potret dirinya di The Wahid Institute, Jakarta, Kamis (5/1). Menurutnya, itu bukan karena sakit. “Saya kelelahan saja,” ujar perempuan yang hari itu mengenakan atasan cokelat dengan selendang berwarna senada. Sore itu, dia kembali terbang ke Yogyakarta tempat suami dan anak-anaknya menanti di rumah. Ketika ditanya dirinya lebih sering di Jakarta atau di Yogya, putri sulung Gus Dur itu malah tertawa, “Saya lebih banyak di jalan.”

Sejak Oktober hingga Desember 2016, tak kurang dari 20 kota telah didatanginya demi menjalani tugas melanjutkan perjuangan almarhum ayahnya. Ibu empat anak itu tahu betul konsekuensi tanggung jawabnya. Perempuan yang dulu menjadi sosok privat itu kini harus menjadi sosok publik dengan sebagian waktunya dihabiskan di luar rumah. “Kami kan hidup dengan pemahaman bahwa waktu tidak bisa diatur, yang bisa diatur adalah prioritas,” cetus Alissa. Suaminya mendukung penuh memindahkan kantornya ke rumah dan biasa mengadakan berbagai rapat di rumah. “Supaya anak-anak tetap lihat ada orangtuanya kalau saya di luar kota,” jelasnya.

Meski anak pertamanya baru berusia 15 tahun dan bungsunya baru 10 tahun, sejauh ini mereka tidak pernah mengeluhkan kesibukan dan keterbatasan waktu ibunya. Terbukti, ilmu psikologi yang dipelajari Alissa di perguruan tinggi kini bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dia paham setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Anak pertamanya tergolong pemikir dan secara konstan otaknya berputar terus, dia pun memilih cukup banyak meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya. Lain lagi dengan anak nomor dua yang membutuhkan komunikasi verbal. Perlu sering dikirimi pesan lewat aplikasi perpesanan, diajak mengobrol, dan dipuji. Karena kesibukannya, Alissa tak lagi membuka praktik sebagai psikolog. Untuk konsultasi, dia terpaksa hanya bisa melayani sahabat dan keluarga.

Pendidikan
Kesibukan bukanlah hal baru bagi Alissa Wahid. Saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, dia pun sambil bekerja. Dia sering bantu penelitian-penelitian dosen dan mendapat honor. Kebiasaan itu terus dijaganya, karena ayahnya tak selalu bisa memberi uang. “Orang saya dari SD sering diutang kok,” ujarnya soal Gus Dur yang sering pinjam uang jajan anaknya.

“Jadi dapat sangu Rp40 ribu sebulan, nah itu di tengah bulan bisa bapak nanya uangnya masih ada atau enggak. Bapak pinjem ya, itu sudah biasa,” kisahnya. Alissa memaklumi karena penghasilan Gus Dur hanya dari seminar dan menulis. Bahkan kalau ada orang yang memberi uang ke Gus Dur dengan alasan ingin membantu perjuangannya, dalam kepala ayahnya itu bukan hak keluarga, itu punya masyarakat. Dari sana pengajaran soal integritas melekat di keluarga.
Alih-alih menasihati, pola pengajaran Gus Dur di keluarganya lebih banyak contoh hidup. Untuk perkara pendidikan agama seperti me­ngaji sejak masa kanak-kanak, menjadi tanggung jawab istrinya Gus Dur. (Her/M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya