Informasi Kesehatan belum Tersampaikan Maksimal

(Ric/H-3)
18/1/2017 07:40
Informasi Kesehatan belum Tersampaikan Maksimal
(Thinkstock)

Tidak tersampaikannya informasi kesehatan kepada masyarakat disinyalir menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka kematian akibat penyakit tidak menular dewasa ini. Semestinya penyakit yang disebabkan gaya hidup keliru tersebut dapat dicegah bila masyarakat mendapat informasi kesehatan yang memadai. Berdasarkan data dari Double Burden of Diseaseand WHO NCD Country Profiles serta Kementerian Kesehatan yang dikutip Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), kematian yang diakibatkan penyakit tidak menular pada 2015 mencapai 57% dari keseluruhan penyebab utama dari beban penyakit. Angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan penyakit menular yang hanya 30% serta cedera yang hanya 13%.

"Berarti kan ada problem mendasar dari informasi, apakah itu tidak sampai atau tidak sampai secara utuh sehingga tidak mendorong perubahan perilaku di masyarakat," ucap Kepala Unit Komunikasi dan Pengelolaan Pengetahuan TNP2K Ruddy Gobel di Jakarta, Selasa (17/1). Tidak sampainya informasi tersebut, lanjut Ruddy, tidak hanya dipengaruhi dokter sebagai komunikator. Masyarakat juga dinilai enggan mencari informasi secara utuh. Untuk itu, dibutuhkan upaya masif dalam memberikan informasi tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi berkonsep kesehatan digital. "Digitalisasi informasi itu sekarang berada di semua aspek, sekarang tinggal kita lihat saja bagaimana konsep yang paling baik," imbuh Ruddy.

Dikatakan Ruddy, untuk informasi yang berisi pengetahuan dan promotif, menggunakan teknologi digital dipandang ampuh. Namun, untuk informasi yang bersifat diagnosis, dirinya menilai masih perlu adanya jenis teknologi yang dapat membuat dokter melakukan intervensi dan tatap muka. Pemerintah, lanjut Ruddy, memandang digitalisasi informasi kesehatan sebagai arus yang tidak dapat dielakkan. "Kita pun bersedia untuk melihat dan menelaah semua masukan. Kalau memang itu bermanfaat, kenapa tidak kita buatkan regulasinya?" tegas dia.

Sebatas promotif
Pada kesempatan sama, pakar filsafat kesehatan Agus Purwadianto menilai kesiapan teknologi kesehatan digital baru bisa mengakomodasi hal-hal yang sifatnya promotif, bukan kuratif (pengobatan). "Karena untuk diagnosis, kita kan butuh data dan riwayat pasien, sementara itu bersifat rahasia," terang Agus yang juga dokter pakar forensik tersebut. Menurut dia, masyarakat tidak dapat bergantung secara penuh kepada dokter digital dan konsultasi secara digital. Pasalnya, untuk menegakkan diagnosis, riwayat kesehatan seseorang perlu dilihat secara utuh. Hal itu tidak bisa lewat konsultasi digital. "Dokter tidak bisa melakukan diagnosis yang bersifat pemantauan secara singkat, perlu dilihat riwayat dan perkembangan pasien dalam kurun waktu tertentu," tutup dia. (Ric/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya