Perayaan Imlek Lekat Dengan Gus Dur

Tesa Oktiana Surbakti
15/1/2017 00:00
Perayaan Imlek Lekat Dengan Gus Dur
(MI/RAMDANI)
MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita mengenang almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai sosok di balik kebebasan perayaan Hari Raya Imlek di Tanah Air.

“Setiap Imlek, masyarakat (Tionghoa) tidak bisa melupakan keputusan Gur Dur. Sekian lama Imlek tidak bisa diperingati, kalau pun ada pasti secara sembunyi-sembunyi,” ujar Engggar --panggilan akrab Mendag-- di Kick Off Pasar Murah Artha Graha Peduli, Sabtu (14/1).

Enggar menyebut jasa Gus Dur tidak lepas dari keputusan yang dibuatnya mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa.

Sebelumnya, pada era Orde Baru, masyarakat Tionghoa tidak bisa mementaskan seluruh kebudayaannya di tengah publik. Seiring kekhawatiran pemerintah Orde Baru bahwa keturunan Tionghoa akan menyebarkan paham komunis di Indonesia.

“Keputusan itu (mencabut Inpres) luar biasa. Semestinya perayaan keagamaan seperti ini menjadi momentum introspeksi diri. Khususnya bagaimana berbakti kepada bangsa dan negara,” ujar Enggar berseloroh, bertepatan dengan datangnya hujan kala itu menjadi pertanda datangnya rezeki di Tahun Baru Imlek.


Putri Gus Dur, Yenny Wahid, tidak bisa menutupi suka citanya melihat saudara sebangsa keturunan Tionghoa sudah bisa bernafas lega merayakan Imlek. Yenny menuturkan pesan sang Ayah bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian dari sejarah bangsa yang semestinya mendapatkan kesempatan dan hak yang sama.

“Kita berterima kasih dengan etnis Tionghoa. Karena melalui jalur-jalur (perdagangan) yang dibuka masyarakat Tionghoa, agama Islam bisa masuk ke Indonesia. Sekarang ini yang menjadi tantangan kita ialah bagaimana menjaga benang-benang persatuan di tengah masih adanya kesenjangan,” ujar Yenny yang merupakan direktur eksekuitf Wahid Institute.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya