Perusahaan Sawit Rebut Lahan Warga

Putri Rosmalia Octaviyani
13/1/2017 02:20
Perusahaan Sawit Rebut Lahan Warga
(MI/Rudi Kurniawansyah)

SEKITAR 80% atau 1.820 hektare (ha) lahan pertanian warga Desa Samuda, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, diserobot perusahaan pemegang hak konsesi selama 10 tahun terakhir. Saat ini kondisi sekitar 180 ha lahan yang tersisa juga terus terancam oleh tekanan konsesi yang berusaha menguasai. Praktik tersebut secara signifikan memengaruhi ekonomi warga desa yang berada di sekitar rawa gambut tersebut. "Sejak 2009 konsesi mulai gencar merambah," kata Lamsun, Ketua Komunitas Warga dan Petani Desa Samuda, saat ditemui di sekitar lahan yang dikelolanya, kemarin.

Menurutnya, modus perampasan lahan warga dilakukan melalui perambahan secara masif untuk tanaman sawit. Selain itu, jalan yang menjadi satu-satunya jalur warga menuju lahan sering ditutup paksa sehingga kerap menimbulkan konflik. "Ketika konflik terjadi, kami biasanya berusaha bertemu pihak perusahaan. Pada akhirnya konflik selalu dimenangi perusahaan karena warga terintimidasi secara langsung atau akibat ketidakmampuan mengembalikan fungsi awal lahan yang telah ditanami sawit," ungkap Lamsun. Untuk menyelesaikan konflik, akhirnya perusahaan membeli lahan warga dengan harga rata-rata Rp1 juta hingga Rp10 juta per ha.

Akibat praktik tersebut, ujarnya, di Kecamatan Daha Selatan saat ini hanya tersisa 21 keluarga yang masih memiliki lahan untuk bertani. "Awalnya ada lebih dari 100 keluarga. Kami menerima lahan adat tersebut secara rata sejak lebih dari 60 tahun lalu untuk dikelola setiap keluarga. Dahulu, pemerintah daerah dan desa yang menentukan," kata Lamsun. Warga Daha Selatan lainnya, Bakrie, mengatakan, sejak praktik perambahan lahan oleh perkebunan sawit terjadi, warga menderita kerugian lantaran tidak lagi memiliki lahan untuk bercocok tanam.

Bahkan, kini banyak warga yang kehilangan lahan terpaksa hanya bekerja sebagai buruh tani dan perusahaan perkebunan dengan upah seadanya.
"Selain itu, adanya (perkebunan) sawit juga berpengaruh besar pada lahan pertanian kami. Aliran air dari lahan gambut yang lahan sekitarnya ditanami sawit memiliki PH yang bersifat masam sehingga berpengaruh pada hasil pertanian kami. Bahkan kami kerap gagal panen," jelas Bakrie.

Tinggal semangka
Warga Daha Selatan sebelumnya menanami lahan mereka dengan berbagai tanaman buah, sayur, dan umbi dalam jumlah besar. Namun, saat ini hanya tinggal bebe-rapa jenis yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan mereka, antara lain buah semangka. Sementara itu, dalam rapat terbatas tentang restorasi lahan gambut di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin, Presiden Joko Widodo menegaskan, sejalan dengan pembentuk-an Badan Restorasi Gambut (BRG) pada awal 2016, pemerintah menargetkan restorasi lahan gambut seluas 2 juta ha di tujuh provinsi sampai 2020, atau 400 ribu ha di akhir 2017.

"Untuk mencapai target restorasi 2017, BRG tidak bisa bekerja sendirian. Perlu dukungan penuh dari seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah," kata Presiden. (Pro/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya