MESKIPUN kehilangan musuh bersama, kalangan pemuda bisa terus berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa. Para pemuda bisa terus aktif berjuang dan menjadi pemimpin di berbagai sektor. Kesempatan berkembang bagi pemuda harus dibuka seluas-luasnya.
"Dulu musuhnya jelas, penjajah dan rezim yang otoriter. Namun, tanpa common enemy pun, pemuda harus tetap aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa di berbagai sektor," ujar peneliti LIPI Lili Romli dalam diskusi bertajuk Kiprah Pergerakan Pemuda dalam Membangun Indonesia di Menteng, Jakarta, kemarin (Selasa, 27/10/2015) .
Tanpa menafikan pentingnya sikap kritis dalam bentuk demonstrasi dan turun ke jalan, Lili mengatakan, pemuda masa kini harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Pemuda mesti terus mengembangkan kompetensi agar siap menghadapi persaingan di era pasar bebas ke depan.
"Di sisi lain, pemerintah juga harus mendorong peran pemuda. Berikan kesempatan bagi mereka. Bangun kanalisasi agar energi yang dimiliki kaum muda itu tersalurkan ke aktivitas positif. Dengan begitu, tercipta pemuda yang kreatif dan kompetitif," kata dia.
Senada, peneliti CSIS Philips J Vermonte mengatakan kaum muda harus dibiarkan bergerak bebas, berorganisasi, dan membangun komunitas kreatif. Menurutnya, tidak semua kalangan pemuda hedonis dan apatis.
Menurut Philips, heroisme pemuda tidak melulu harus diwujudkan dengan berdemonstrasi dan turun ke jalan. "Fokus mereka bisa apa saja. Masalah negara dari A sampai Z ada. Masalah kesehatan, akses pendidikan yang terbatas, teknologi, dan bidang-bidang lainnya. Biarkan mereka memilih sendiri tempat mereka membangun kompetensi dan meningkatkan kapasitas diri," ujar Philips.
Di sisi lain, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Arief Rosyid Hasan mengkritisi pemerintah yang dinilai tidak memiliki peta jalan pembangunan pemuda yang jelas. Apalagi, saat ini, menurut dia, jumlah pengangguran kaum muda lebih banyak daripada pengangguran di usia lain.
"Ada ancaman serius kalau pemerintah tidak fokus memperhatikan. Harus ada semacam road map pembangunan pemuda dan ini harus ditopang tim kerja. Kita bisa mencontoh India yang sukses memetakan pemuda dan membangun Youth National Policy yang mengakomodasi kepentingan mereka."
Hal yang sama diungkapkan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Beni Pramula. Menurutnya, pemerintah bahkan belum memiliki desain guna menyiapkan kaum muda menghadapi persaingan di era pasar bebas ASEAN.
"Kalau mau jujur, kita jauh tertinggal. Negara-negara lain, seperti Kamboja dan Laos, sibuk membicarakan membangun perusahaan di negara kita. Sementara kita belum jelas arahnya ke mana," cetusnya.
Analis geopolitik Suryo AB mengatakan musuh bersama kaum muda saat ini tidak lagi hanya ada di dalam. Indonesia terancam tereksploitasi dalam persaingan ekonomi yang tidak adil dengan negaranegara maju dalam forum-forum global.
"Ini yang juga harus diperhatikan kaum muda. Kita harus melihat ke luar dan mengawal kebijakan luar negeri kita. Jangan sampai Indonesia masuk ke kesepakatankesepakatan global yang merugikan yang memaksa kita bersaing di pasar bebas, tapi sama sekali belum siap."
Satu untuk Bumi Dengan menyadari tantangan berat itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengingatkan agar peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi semacam rutinitas seremonial belaka, tapi juga perlu dimaknai sebagai pemanfaatan momentum secara lebih strategis.
"Semangat ini diperlukan untuk memperkuat, merawat, dan menjaga nasionalisme pemuda dalam menjawab berbagai tantangan zaman dan menangkap peluang seperti diamanatkan UU Kepemudaan. Amanat itu berkaitan dengan peran aktif pemuda di segala bidang pembangunan," tuturnya.
Dengan berbagai potensi sumber daya alam dan bonus demografi yang kini dimiliki Indonesia, lanjut Menpora, para pemuda harus menyiapkan diri untuk bersaing di tingkat dunia.
"Kompetensi dan daya saing pemuda merupakan bagian integral dari pembangunan karakter bangsa yang harus terus diperkukuh, apalagi kita menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN," tambah Cak Imam di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, kemarin.
Ia menyebut salah satu persoalan nyata terkini yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia ialah asap yang terjadi di sejumlah daerah. Selain diperlukan partisipasi pemuda untuk mengatasi persoalan tersebut, fenomena itu juga harus mengingatkan para pemuda agar memiliki kesadaran lingkungan.
" Karena itu, pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangkitkan pemuda melalui revolusi mental. Menuju aksi 'Satu untuk Bumi' yang merupakan bagian tema HSP kali ini," tutur Menpora.
Menpora dijadwalkan akan memimpin acara puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) di Tanjung Pinang, hari ini. Peringatan HSP ke-87 dengan tema Revolusi Mental untuk Kebangkitan Pemuda-Aksi Menuju Satu Bumi itu diharapkan dapat menginspirasi gagasan kreativitas pemuda melalui karya nyata dalam menjawab tantangan di segala bidang. (Yan/S-2)