SUSU sapi merupakan salah satu sumber nutrisi yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak, terutama di masa balita. Namun, tidak semua anak bisa mengonsumsi susu sapi. Data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 menunjukkan bahwa 0,5%-7,5% dari total anak Indonesia di bawah 1 tahun mengalami alergi protein susu sapi.
"Alergi susu sapi umumnya dialami anak yang mempunyai bakat alergi yang diturunkan secara genetik oleh salah satu atau kedua orangtua. Jika orangtua memiliki alergi terhadap suatu makanan, termasuk susu sapi, 50% kemungkinan si anak memiliki alergi yang sama," kata konsultan ahli alergi-imunologi RSCM, Zakiudin Munasir, pada <>talkshow Penanganan Tepat untuk Anak dengan Alergi Susu Sapi di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta, Sabtu (10/10).
Selain karena faktor genetik, munculnya alergi juga dipengaruhi faktor lingkungan dan daya tahan tubuh. "Orangtua yang sering merokok dekat dengan anaknya secara tidak langsung bisa menyebabkan dia alergi," ujar Zakiudin pada acara yang diselenggarakan Sarihusada itu.
Mengenali tanda-tanda alergi, lanjutnya, menjadi langkah pertama yang paling penting dalam manajemen alergi susu sapi.Gejala alergi susu sapi yang paling sering muncul ialah masalah di saluran cerna, mulai muntah, kolik, diare, adanya darah dalam feses, hingga masalah pada kulit berupa bentol merah gatal, bentol merah berisi cairan, keropeng, serta kulit kering dan gatal.
Gejala lain yang mungkin muncul ialah bengkak dan gatal di bibir sampai lidah, nyeri, kejang perut, dan muntah sampai diare berat yang disertai darah. Alergi itu juga bisa berdampak pada gangguan saluran pernapasan, seperti bersin-bersin disertai gatal di hidung, hidung tersumbat, batuk pilek berulang, sesak napas, dan asma.
"Setelah mengenal satu atau lebih gejala pada anak, segera konsultasikan ke tenaga medis untuk mendapatkan penanganan lebih tepat," kata pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Menurutnya, sampai saat ini masih ditemukan kasus anak alergi susu sapi yang mengalami gejala gangguan pencernaan dan kekurangan gizi. Sebenarnya, kata dia, kita dapat melakukan penanganan dasar untuk menghindari risiko lebih lanjut. Caranya, mengganti asupan susu sapi dengan susu kedelai.
"Susu kedelai mengandung isolat protein kedelai dan biasanya sudah melalui fortifikasi (penambahan zat gizi tertentu) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
"Pada kesempatan sama, ahli gizi dari Sari Husada, Dian Ekawati, menambahkan alergi anak pada susu sapi lambat laun akan menghilang seiring dengan perkembangan organ pencernaannya.
"Orangtua yang mempunyai anak alergi susu sapi perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat panduan mengenai penggunaan pengganti susu sapi," katanya. (*/H-3)