Ketika Dokter Menjadi Sahabat Pasien

(Nik/H-1)
28/12/2016 08:20
Ketika Dokter Menjadi Sahabat Pasien
(thinkstock)

DELAPAN belas foto terpajang secara tersebar di beberapa penjuru Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Pondok Indah, Jakarta, sejak pertengahan Desember ini. Dalam setiap foto, ada sosok dokter yang berpose 'tidak biasa' dengan pasien-pasiennya. Disebut 'tidak biasa' karena pose itu tidak seperti kebanyakan foto dokter-pasien yang umumnya menggambarkan pemeriksaan atau tindakan medis yang kaku. Pada foto bertajuk Promotor of Life misalnya, tampak promotor musik Adrie Subono berpose bersama dr Sunarya SpJP (K) di atas seperangkat alat treadmill. Sang dokter tampak tertawa sembari memetik gitar, sang promotor pun membuka kedua lengannya, laiknya seorang pembawa acara di panggung yang tengah 'mempersembahkan' performer pada para penonton.

"Beberapa tahun lalu, beliau melakukan tindakan pemasangan ring di jantung saya. Prosedur ini membuat saya lebih tenang dalam beraktivitas. Saya menganggap dokter Sunarya sebagai salah satu dokter terbaik yang pernah saya temui. Kami sangat dekat. Semua pertanyaan saya pasti dijawab dengan cepat." Demikian penuturan Adrie tentang dr Sunarya yang tercantum dalam keterangan foto tersebut.

Pada foto lainnya yang berjudul Making Movie, dr Aman Pulungan SpA(K) tampak tersenyum sembari memegang perangkat syuting film. Ia diapit pasiennya, Nasri Amin, 22, yang memegang kamera, beserta ibundanya, Rimawati, yang juga menenteng perangkat pembuatan film. "Anak saya terkena diabetes sejak kelas 6 SD dan menjadi pasien dokter Aman. Mereka sudah sangat akrab. Kalau ketemu, seperti anak dengan bapak, sampai saat ini," tutur Rimawati saat menghadiri pembukaan pameran foto bertajuk Heartfelt Moments, Stories in Pictures itu di RSPI Pondok Indah, Kamis (15/12).

"Sekarang anak saya sudah 22 tahun, aktif di bidang perfilman, tapi masih tetap mengikuti komunitas pengidap diabetes anak yang dulu diperkenalkan dokter Aman. Komunitas itu pula yang membantu kami pulih dari kesedihan karena ternyata kami tidak sendirian," imbuhnya.

Sama seperti pasien-pasien lain yang fotonya juga terpajang dalam pameran itu, Rimawati mengungkapkan dalam pengobatan, dokter dan tenaga medis yang komunikatif dan memahami kondisi pasien sangatlah penting. "Dokter dan tenaga medis di sini selalu mendukung, menyemangati, dan menguatkan kami ketika terpuruk dalam kesedihan dan kecemasan karena penyakit, itu yang kami butuhkan," kata Rizka Prasetianingrum yang pernah dirawat bersama anaknya yang lahir prematur karena preeklampsia. Kini, anaknya yang saat lahir hanya berbobot 700 gram sudah berusia lima tahun dan tumbuh sehat. Mereka juga menjadi bagian dari pameran foto itu.

Jadi motivasi
Chief Executive Officer of RSPI Group dr Yanwar Hadiyanto pada kesempatan tersebut menjelaskan pameran foto yang akan berlangsung dua bulan itu merupakan bagian dari perayaan 30 tahun usia RSPI Group. "Ketika ide pameran foto ini muncul, tidak sedikit pun ada niat untuk berbangga hati berlebihan. Kami hanya berharap bagaimana kisah-kisah positif dari para pasien ini bisa menjadi motivasi bagi profesi medis serta pasien atau masyarakat lain yang mungkin mengalami problem sama dan tengah mencari solusi," ujarnya.

Ia menegaskan kepercayaan pasien pada dokter yang diawali dengan komunikasi yang baik sangatlah penting dan menentukan keberhasilan proses pengobatan. "Kami percaya, nuansa keakraban antara dokter dan pasien dapat memiliki nilai yang lebih tinggi dari teknologi pengobatan mana pun," pungkasnya. (Nik/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya