Galakkan Deteksi Dini

Eni Kartinah
28/12/2016 08:10
Galakkan Deteksi Dini
(thinkstock)

KANKER payudara masih menjadi kanker yang paling banyak terjadi pada kaum perempuan. Sebanyak 22% kasus kanker baru di Indonesia ialah kanker payudara. Kementerian Kesehatan mencatat, pada 2016 kematian akibat kanker payudara mencapai 21,5 per 100 ribu penduduk. Tingginya angka kematian itu karena mayoritas pasien kanker payudara terlambat berobat. Demikian terungkap dalam diskusi bertajuk Rumpian Beha: Kampanye Deteksi Dini Kanker Payudara yang diadakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bersama perusahaan farmasi Roche Indonesia di Jakarta, Rabu (21/12).

"Kematian akibat kanker payudara terjadi karena salah satunya keterlambatan penanganan. Saat ini ada 120 ribu dokter umum, 7.000 dokter bedah, dan hanya 153 dokter bedah onkologi di Indonesia. Untuk sarana diagnostik kanker payudara pun tidak semua rumah sakit memiliki, apalagi terapi dan tenaga ahli onkologi. Hal ini diperparah dengan pasien yang lebih dulu berobat ke alternatif sebelum menemui dokter," papar Yadi Permana, dokter spesialis bedah onkologi dari Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta.

Untuk mencegah keterlambatan, lanjutnya, harus ditanamkan persepsi di masyarakat bahwa terdiagnosis kanker payudara bukan berarti vonis mati. Jika ditemukan dan ditangani pada stadium I, peluang hidup dalam 5 tahun (satuan medis di bidang kanker) bisa lebih dari 90%. Namun, pada stadium III, peluang itu turun jadi 60%, tergantung jenis kanker payudaranya. Pada stadium IV, peluang itu tinggal 10%-15%.

"Selain meluruskan persepsi itu, masyarakat harus mencari informasi yang benar tentang kanker payudara. Lalu, kenali payudara sendiri, lakukan sadari (pemeriksaan payudara sendiri) secara teratur. Jika menemukan benjolan, jangan ragu periksakan ke dokter." Ia mengingatkan, berdasarkan statistik, 9 dari 10 benjolan pada kanker payudara bukan kanker. Jadi, pasien tidak perlu cemas berlebihan ketika menemukan ada benjolan.

Selain sadari, pemeriksaan USG atau mamografi rutin juga perlu dilakukan. Terlebih pada mereka yang memiliki faktor risiko (lihat grafik). Mamografi, sambung Yadi, dianjurkan pada usia 40 tahun ke atas, sekali setahun. Stigma sakit saat mamografi saat ini sudah diatasi dengan alat digital mamografi yang tidak menimbulkan nyeri. Adapun untuk perempuan berusia lebih muda, pemeriksaan yang disarankan ialah USG.

"Kriteria usia ini didasarkan pada kepadatan payudara. Di usia lebih dari 40 tahun umumnya kepadatan payudara sudah menurun sehingga mudah dideteksi dengan mamografi." Terkait dengan pengobatan, Yadi menjelaskan langkah terapi disesuaikan dengan jenis kanker payudara. Yang jelas, kata dia, pengobatan kanker payudara di Indonesia tidak kalah dengan di negara maju seperti Amerika dan Eropa, terutama dari sumber daya manusia.

Sosialisasi di sekolah
Pada kesempatan sama, Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengungkapkan masalah keterlambatan deteksi dini kanker payudara timbul karena belum meratanya informasi tentang sadari. "Kita tidak pernah memberikan pelajaran ini di sekolah. Padahal begitu anak-anak perempuan menstruasi, ini perlu diajarkan," tegasnya. YKPI bersama para survivor, dokter, dan warrior kanker payudara (mereka yang dalam proses pengobatan) rutin melakukan edukasi ke masyarakat, pendampingan kepada pasien, juga upaya deteksi melalui mobil mamografi.

Berdasarkan data dari unit mobil mamografi milik YKPI, pada 2015 dari 3.427 perempuan yang diperiksa, yang terdeteksi memiliki tumor jinak sebanyak 428 orang dan ada 47 orang yang dicurigai memiliki kanker ganas. Untuk tahun ini, sampai November 2016 jumlah yang diperiksa 2.244 orang. Ditemukan tumor jinak pada 320 orang (14,2%) dan tumor yang dicurigai ganas pada 27 orang (1,2%).

"Saat ini mobil mamografi sudah dibolehkan beroperasi sampai Jawa Barat. Ke depan, mobil mamografi akan dilengkapi USG sehingga rentang usia yang boleh diperiksa bisa di bawah usia 36 tahun," kata Linda. Head of Corporate Affairs and Access PT Roche Indonesia Lucia Erniawati menambahkan, untuk lebih menyosialisasikan sadari di masyarakat, pihaknya bersama YKPI memperkenalkan Rumpian Beha, video edukasi mengenai kanker payudara yang disajikan dengan pendekatan segar. Di dalamnya, fakta-fakta mengenai kanker payudara serta langkah-langkah melakukan sadari disampaikan secara terperinci dan jelas dengan menggunakan animasi yang menarik dan bahasa yang mudah dimengerti sehingga masyarakat awam mudah memahami dan mampu melakukan sadari dengan benar.

"Rumpian Beha sangat mengandalkan media massa untuk menyebarkan informasi yang benar tentang sadari menjadi informasi edukatif, bukan pornografi, dengan kemasan yang menarik. Video Rumpian Beha saat ini sudah banyak diputar sebagai sarana kampanye deteksi diri kanker payudara," ujarnya. (*/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya