Keberaksaraan Kikis Generasi Nol Buku

Bay/N-2
25/10/2015 00:00
Keberaksaraan Kikis Generasi Nol Buku
Pengunjung melihat buku kumpulan surat dari warga yang belajar pendidikan keaksaraan dasar 2015, pada acara puncak peringatan ke-50 Hari Aksara Internasional, di Karawang, Jawa Barat, kemarin.(ANTARA/Risky Andrianto)

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional 2015 di Karawang, Jawa Barat, kemarin.

Membaca ialah jendela dunia. Dengan membaca, kita menjadi berdaya dan berguna. Dengan membaca, kami siap berkarya.

Demikian petikan deklarasi yang dibacakan dua peserta belajar keaksaraan Satim dan Yatti Nurchayati, yang ikuti 4.000 warga belajar melek aksara dengan bersemangat di lapangan Karangpawitan, Karawang.

Hari Aksara Internasional biasa diperingati setiap 8 September. Namun, tahun ini Kemendikbud menetapkan pada 22-24 Oktober.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan diwakili Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Kemendikbud, Harris Iskandar, mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca.

Turut hadir Gubernur Banten Rano Karno yang mendapat penghargaan keaksaraan, Plt Bupati Karawang Cellica Nurrahadiana, perwakilan UNESCO di Jakarta Shahbaz Khan, dan Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rahman.

Harris mengungkapkan data pencapaian keaksaraan tahun 2010, penduduk Indonesia usia 15-59 tahun yang melek aksara sekitar 95,21%, kemudian tahun 2014 menjadi 96,3%.

Angka itu menunjukkan keberhasilan Indonesia memenuhi target Deklarasi Dakar tentang pendidikan untuk semua atau Education for All. Namun, angka itu berarti ada 5,9 juta orang yang belum mampu mengeja dan menulis namanya sendiri.

Tercatat sebanyak 6-8 provinsi yang persentase tunaaksaranya masih di atas 5%. Angka-angka itu, lanjut Harris, bukan sekadar deretan statistik.

"Tantangan aksara bukan sekadar bisa membaca, tantangan keberaksaraan lebih besar dari itu. Jika kita lihat dalam konteks itu, bisa jadi angka buta aksara kita masih mengkhawatirkan."

Harris mengutip pernyataan budayawan Taufik Ismail bahwa Indonesia masih dise-limuti Generasi Nol Buku.

Generasi yang tak membaca satu pun buku dalam satu tahun.

"Generasi yang rabun membaca, dan lumpuh menulis," tandasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya