Meredam Nyeri Kanker

Eni Kartinah
21/12/2016 07:10
Meredam Nyeri Kanker
(THINKSTOCK)

SEBAGIAN besar penderita kanker mengalami nyeri. Penyebabnya bisa penekanan saraf akibat massa kanker itu sendiri, bisa juga karena efek samping tindakan medis yang dilakukan seperti pembedahan, kemoterapi, dan konsumsi obat-obatan. Nyeri tersebut bisa hilang-timbul, bisa juga berlangsung terus-menerus. Bahkan, nyeri itu dapat menetap meski pasien telah dinyatakan bebas dari kanker. Tingkatan nyeri yang dirasakan dapat bervariasi antarpasien. Hal itu dipengaruhi faktor-faktor seperti jenis dan stadium kanker, serta kepekaan pasien terhadap nyeri.

"Rasa nyeri dapat meningkatkan stres dan menyebabkan gangguan hormon yang membuat penyakitnya lebih berat. Karena itu, nyeri harus diatasi," ujar Prof dr Darto Satoto, pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Jakarta, pada temu media di klinik tersebut awal, bulan ini. Berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO), nyeri ringan-sedang dapat diterapi dengan menggunakan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid. Nyeri sedang-berat dapat diatasi dengan obat dari golongan narkotika seperti kodein dan morfin.

Namun, lanjut Darto, studi menunjukkan sekitar 14% penderita nyeri kanker tidak bisa ditangani dengan prosedur tersebut. “Pada mereka, nyeri tidak dapat diatasi meski telah dilakukan kemoterapi, operasi, radiasi, dan pemberian obat-obatan pereda nyeri,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Untuk pasien yang demikian, sambung Darto, terapi intervensi bisa menjadi pilihan. Terapi intervensi merupakan prosedur memutus sinyal nyeri dari jaringan saraf tepi ke otak. Ketika sinyal nyeri tidak sampai ke otak, pasien tidak akan merasakan nyeri.

"Menurut studi, 10%-20% pasien nyeri kanker yang tidak mempan dengan terapi obat jenis narkotika atau bermasalah dengan efek sampingnya dapat memperoleh manfaat dari prosedur intervensi," imbuhnya. Prof Darto yang seorang konsultan anastesi regional dan intervensi itu menjelaskan ada dua teknik intervensi yang dilakukan untuk mengatasi nyeri kanker, yaitu teknik nondestruktif dan destruktif yang melibatkan perusakan jaringan saraf.

"Keduanya dapat dicoba jika nyeri tidak lagi dapat diatasi dengan pemberian obat opioid (golongan narkotika) dan analgesik sistemis (obat minum). Atau jika pemberian obat secara sistemis ditakutkan akan menimbulkan efek samping berat." Teknik nondestruktif dilakukan dengan penyuntikan atau pemberian infus berisi obat anestesi lokal pada area target. Contohnya, metode neuraxial analgesia. Pada teknik itu, obat antinyeri disuntikkan ke area sumsum tulang belakang yang merupakan jalur saraf pusat. Obat yang digunakan umumnya golongan opioid (misalnya morfin), obat anestesi lokal (misalnya bupivacaine), atau gabungan keduanya.

"Sejumlah studi menunjukkan teknik ini dapat menurunkan kebutuhan obat pereda nyeri sistemis pada pasien dengan nyeri kanker derajat berat dan cukup populer. Untuk mendapatkan efek jangka panjang, teknik ini dapat dikombinasikan dengan pemasangan implan kateter," jelasnya. Metode lainnya ialah perangsangan sumsum tulang belakang. Itu merupakan teknik penanaman elektrode dalam rongga epidural pada tulang belakang. Elektrode itu akan menghantarkan stimulus yang menurunkan sensasi nyeri.

Merusak saraf
Teknik destruktif, kata Darto, merupakan teknik yang didesain untuk mendapatkan efek bebas nyeri yang lebih permanen melalui perusakan saraf tertentu sehingga hantaran sinyal nyeri ke otak terhenti. "Meski demikian, perlu diingat bahwa saraf yang mengalami kerusakan cenderung tumbuh atau sembuh dalam waktu beberapa bulan sehingga ada kemungkinan nyeri timbul kembali."

Yang termasuk metode destruktif misalnya penyuntikan agen farmakologis seperti etanol 50%-100% dan fenol 3%-12% ke dalam sumsum tulang belakang. "Penyuntikan bahan kimia itu akan menyebabkan iritasi dan kerusakan sel-sel saraf, baik pada membran protein, lapisan myelin, maupun akson dan sambungan saraf." Metode destruktif lainnya ialah prosedur radiofrekuensi. Yakni, pemberian arus radiofrekuensi sebesar 50-500 kHz ke jaringan saraf. Panas yang ditimbulkan akan mengakibatkan ablasi atau kerusakan jalur saraf yang menghantarkan sinyal nyeri ke otak.

Selanjutnya, metode pembedahan. Penghantaran sinyal nyeri dari saraf tepi ke otak dihambat dengan memutuskan hubungan keduanya melalui pembedahan. Menurut Darto, teknik destruktif umumnya dilakukan hanya satu kali. Dengan demikian, teknik ini lebih menguntungkan dari segi biaya dan kenyamanan. Akan tetapi, teknik ini dapat menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan lain di luar sasaran. Karenanya harus dilakukan secara hati-hati oleh tenaga medis yang kompeten. (*/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya