Diaspora Diharap Ikut Bangun Bangsa

Syarief Oebaidillah
20/12/2016 07:44
Diaspora Diharap Ikut Bangun Bangsa
()

KALANGAN diaspora yang kini tengah 'pulang kampung' diharapkan dapat berkontribusi dan bersinergi dengan ilmuwan dan perguruan tinggi di Indonesia dalam memajukan bangsa.

"Kita berharap ada sinergi dan kolaborasi antara diaspora dan ilmuwan di Tanah Air dalam meningkatkan ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sambutan pembukaan program Visiting World Class Professor yang menghadirkan 42 diaspora di Kantor Kemenristek Dikti, Jakarta, kemarin.

Turut hadir Menristek Dikti M Nasir, Ketua Panitia Visiting World Class Professor Ali Ghufron Mukti, dan sejumlah rektor dan akademisi perguruan tinggi. Wapres menyatakan tidak ada negara di dunia yang tidak maju karena ilmu pengetahuan dan teknologi. "Iptek sangat dinamis dan berkembang luar biasa di segala ilmu, dan ilmu-ilmu tersebut berasal dari perguruan tinggi yang juga melakukan riset," ujarnya.

Hemat dia, sudah banyak upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu riset dan pendidikan di Indonesia, di antaranya dengan menjadikan perguruan tinggi sebagai center of excellence, bekerja sama dengan negara-negara lain dalam penandatanganan MoU (memorandum of understanding), dan penetapan anggaran pendidikan dalam undang-undang.

"Kita ingin membangun kembali spirit itu. Karena itu, diperlukan jembatan dan benchmarking. Jadi pengalaman para ilmuwan dari luar negeri yang datang ini harus digabungkan dengan praktek di dalam negeri," tegasnya.

Kalla mengimbau segenap diaspora yang hadir agar dalam menyumbangkan pengalaman dan kontribusi dilakukan secara tulus. "Ya anggaplah ini sebagai bentuk amal jariah," seloroh Wapres.

Wapres menyatakan gaji di kampus-kampus dalam negeri memang tidak bisa dibandingkan dengan di negara lain seperti Brunei Darussalam, tapi dengan mengabdi di Tanah Air tanpa gaji yang besar di situlah ladang amal. "Di situlah kekuatan pengabdian, kebanggaan, dan yang paling penting amal jariah," ujar Wapres seraya menambahkan saat ini pemerintah sudah memberikan tunjangan bagi profesor meski tidak sebesar universitas di luar negeri.

Tularkan
Menteri Ristek dan Dikti M Nasir pun berharap keberhasilan para diaspora di luar negeri dapat ditularkan ke Indonesia. Di antaranya, ia meminta kalangan diaspora mampu mendorong meningkatkan para ilmuwan dan guru besar di Indonesia menggenjot publikasi internasional.

"Para diaspora saya mohon dapat mendorong meningkatkan mutu perguruan tinggi, publikasi nasional dan internasional, juga membantu peningkatan inovasi, hasil-hasil riset, prototipe, hingga hilirisasi," tegasnya. Nasir mengungkapkan melalui perbaikan regulasi, tercatat per 5 Desember 2016 ini angka publikasi internasional mencapai 9.012 dari target sebanyak 6.000-an.

Ali Ghufron Mukti menambahkan, selain meningkatkan publikasi internasional dan kolaborasi antara profesor diaspora Indonesia dan akademisi atau peneliti dalam negeri, hendaknya melalui program ini terdapat rekomendasi terkait dengan kebijakan strategis pemerintah dalam memajukan kualitas SDM Indonesia.

Ahli perbandingan agama yang kini bermukim di Amerika Serikat Prof Etin Anwar yang turut hadir di acara itu mengatakan pemerintah harus berperan besar dalam memanfaatkan profesor diaspora itu untuk kemajuan bangsa. "Saya melihat baru kali ini yang serius," tukasnya. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya