JUMLAH penduduk dunia yang saat ini telah mencapai sekitar 7,3 miliar, dinilai sudah satu setengah kali melebihi daya dukung bumi. Tanpa komitmen dari negara-negara di dunia terhadap program Keluarga Berencana (KB), pada 2050 diprediksi jumlah penduduk dunia akan mencapai 9,3 miliar, yang artinya sudah tiga kali melebihi daya dukung bumi.
"Dengan sudah melebihi daya dukung bumi, sebagian kualitas hidup umat manusia terus menurun. Sebabnya, bumi sudah tidak bisa lagi men-support kebutuhan hidup mereka," ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty, di Jakarta, kemarin. Berkaca dari kondisi tersebut, kegiatan Konferensi Internasional tentang KB (International Conference on Family Planning) ke-4 yang berlangsung di Bali pada 9-12 November 2015, bisa dijadikan ajang untuk meningkatkan kembali komitmen dari 86 negara yang hadir untuk kembali membangkitkan program KB.
Pada konferensi itu nanti negara peserta akan diminta untuk konsisten merencanakan jumlah penduduk. Dengan jumlah penduduk yang terkendali, sambung Surya, setiap negara memiliki peluang lebih besar untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan (SDGs). Dengan jumlah penduduk yang terencana, negara bisa melakukan investasi lebih besar di bidang kependudukan. Penduduk yang berkualitas, diyakini dapat menurunkan tekanan pada lingkungan. Mengalami kedaruratan Menurut Surya, dunia saat ini telah mengalami kedaruratan terhadap program KB. Pasalnya, diperkirakan terdapat sekitar 220 juta perempuan di dunia berusia subur (15-49 tahun) yang tidak mendapatkan pelayanan KB. Mereka rentan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan yang bisa bermuara pada terjadinya kematian ibu dan bayi. Selain itu, mereka juga rentan menghasilkan anak yang tidak berkualitas, yang akan berdampak pada kesejahteraan mereka.
Untuk meningkatkan pelayanan KB pada perempuan berusia subur, negara-negara berkembang seperti Indonesia, meminta agar ada pendanaan global untuk membantu mengembangkan program pengendalian penduduk itu, di negara-negara berkembang. "Dengan adanya pendanaan global, diharapkan pada 2020 nanti, hanya tersisa 100 juta perempuan usia subur yang tidak bisa mengakses pelayanan KB.
"Pada kesempatan itu, Surya menegaskan, pada konferensi internasional di Bali nanti, Indonesia akan berjuang untuk kembali mendapatkan dukungan pendanaan global untuk mengembangkan program KB. Pendanaan itu bisa digunakan untuk mengurangi 5,2 juta pasangan usia subur di negara kita yang sulit memperoleh akses KB.
"Pelayanan itu juga bisa dijadikan untuk membuat pelatihan KB ala Indonesia ke negara-negara lain. KB model Indonesia yang melibatkan tokoh agama dianggap sukses dan bisa ditiru negara lain. "Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menambahkan, penguatan KB dapat menurunkan tingkat angka kematian ibu (AKI) yang cukup tinggi di Indonesia. Saat ini, AKI di Indonesia masih mencapai 268 per 100 ribu kelahiran hidup. Padahal, target MDGs 2015 harusnya bisa ditekan mencapai 112 per 100 ribu. "Tingginya AKI akibat pernikahan dini yang terus meningkat dan tingkat melahirkan yang terlalu sering," tutup Nila. (H-1)