Manajemen Apik Ciptakan Sinergi

Irana Shalindra
16/12/2016 12:29
Manajemen Apik Ciptakan Sinergi
(MI/Irana Shalindra)

KELELUASAAN pekerja seni budaya Selandia Baru dalam berkreasi tidak terlepas dari peran Creative New Zealand (CNZ). Lembaga otonom yang dibentuk berdasar undang-undang itu merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam pengelola seni budaya Selandia Baru.

Arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur Edy Gunawan mengatakan CNZ memiliki beragam skema pendanaan untuk meramaikan partisipasi masyarakat dalam kegiatan seni budaya. Baik sebagai pelaku, maupun penikmat.

Skema-skema itu bahkan dengan mudah diakses di situs CNZ karena mereka telah menerapkan sistem daring. Dengan mudah, pengunjung pun bisa melihat siapa menerima berapa dalam program-program pendanaan CNZ.

"CNZ juga turun tangan langsung menghimpun ide dari seniman, menyuport persiapan dan pelaksanaan kegiatan mereka sehingga akuntabel,” papar peserta program Pegiat Budaya itu mengutip penjelasan yang diterimanya selama studi di Selandia Baru.

Pengelolaan oleh CNZ bukan tanpa hasil. Dengan manajemen berkesenibudayaan yang rapi dan transparan, terlahir relasi yang berkelindan antara regulator, pelaku dan publik.

Dari survei tiga tahunan CNZ, terlihat kenaikan persepsi positif publik terhadap kegiatan berkesenian di Negeri Kiwi, di samping keterlibatan dalam aktivitas tersebut. Pada survei terakhir di 2014, ada 74% responden menyikapi positif perihal seni-budaya, dengan tingkat partisipasi 89%. .

Upaya Selandia Baru dalam mempertahankan seni budaya pun tampak dari sejumlah strategi. Umpama, pendirian stasiun tv khusus tayangan berbahasa Maori. Menjaga kelangsungan bahasa Maori menjadi krusial lantaran warisan budayanya berpijak pada tradisi lisan.

"Mereka punya yayasan, komisi perfilman yang membantu dan mendanai proyek-proyek seniman Maori, terutama terkait audio visual," jelas Fauzan Abdillah dari Raaw Visual.

Musisi Iman Fattah mengakui solidnya dukungan pemerintah Selandia Baru kepada pekerja seni budaya mereka. Walakin, hal itu tidak bisa dilepaskan dari konteks populasi warga Selandia Baru yang hanya sekitar 4,5 juta jiwa. Sebagai pembanding, populasi Indonesia sudah melebihi 240 juta jiwa.

Alhasil, tanpa uluran pemerintah pun, seniman Indonesia tetap menggeluti aktivitas mereka. Adapun suport kuat komunitas seni yang di Selandia Baru, juga ia alami di Tanah Air.

"Komunitas musik di Jakarta suportnya bagus. Saling dukung. Mulai dari alat, bikin event, bantu produksi. Itu kita lakukan. Itu hal-hal yang tidak bisa dibeli uang," ujarnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya